Waskita Karya Catat Pendapatan Rp8,13 Triliun, tetapi Rugi Bersih Masih Rp2,87 Triliun hingga September 2026

oleh -63 Dilihat
oleh
Waskita Karya Catat Pendapatan Rp8,13 Triliun, tetapi Rugi Bersih Masih Rp2,87 Triliun hingga September 2026

Jakarta | PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih mencatatkan kinerja negatif sepanjang sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit, perseroan membukukan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,87 triliun.

Meski demikian, nilai kerugian tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada sembilan bulan 2025, Waskita Karya mencatat rugi bersih sebesar Rp3,17 triliun. Dengan demikian, kerugian perseroan menyusut 9,54% secara tahunan atau sekitar Rp302,5 miliar.

Perbaikan juga terlihat pada rugi per saham dasar. Indikator tersebut turun dari Rp110,21 per saham pada sembilan bulan 2025 menjadi Rp99,70 per saham hingga September 2026. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya beban kerugian yang menjadi tanggungan pemegang saham, meskipun perusahaan masih belum membukukan laba.

Di sisi lain, pendapatan usaha WSKT meningkat tajam. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp8,13 triliun pada periode pelaporan, naik 53,73% dibandingkan Rp5,29 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas usaha, tetapi belum sepenuhnya mampu mengimbangi beban dan tekanan keuangan yang masih dihadapi.

Perbedaan kenaikan pendapatan dan posisi rugi bersih menandakan bahwa peningkatan skala bisnis belum otomatis menghasilkan profitabilitas. Kinerja akhir perseroan masih dipengaruhi oleh berbagai komponen biaya, termasuk beban usaha, biaya keuangan, serta faktor lain yang tercermin dalam laporan laba rugi konsolidasian.

Data ini memberikan gambaran bahwa Waskita Karya berada dalam fase pemulihan operasional, tetapi tantangan untuk memperbaiki kualitas pendapatan dan efisiensi biaya masih besar. Investor perlu mencermati perkembangan kinerja pada periode berikutnya, terutama kemampuan perseroan dalam mengonversi pertumbuhan pendapatan menjadi laba serta menjaga keberlanjutan arus kas.

Pertumbuhan pendapatan Waskita Karya hingga September 2026 terutama ditopang oleh segmen jasa konstruksi. Pendapatan dari lini bisnis ini meningkat 71,46% secara tahunan menjadi Rp6,45 triliun. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas proyek konstruksi masih menjadi sumber utama arus pendapatan perseroan di tengah tekanan kinerja secara keseluruhan. Selain itu, pendapatan dari jalan tol tumbuh 14,93% menjadi Rp987,74 miliar, sejalan dengan kontribusi operasional sejumlah ruas yang dikelola perusahaan.

Namun, tidak seluruh segmen mencatat pertumbuhan positif. Penjualan produk precast turun 28,45% menjadi Rp362,45 miliar. Penurunan ini menunjukkan bahwa pemulihan pendapatan belum merata di seluruh lini usaha. Dari sisi pelanggan, Kementerian Pekerjaan Umum menjadi pemberi kerja terbesar bagi Waskita Karya. Kontribusinya mencapai Rp3,91 triliun, meningkat tajam dibandingkan Rp963,02 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, atau lebih dari empat kali lipat.

Meskipun pendapatan meningkat, pertumbuhan tersebut belum mampu mendorong perbaikan laba bruto. Beban pokok pendapatan membesar dari Rp4,31 triliun menjadi Rp7,17 triliun. Kenaikan biaya yang lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan membuat laba bruto turun 2,09% menjadi Rp959,44 miliar. Kondisi ini turut menekan marjin laba kotor, yang menyempit dari 18,54% menjadi 11,81%.

Tekanan terhadap kinerja operasional kemudian berlanjut pada tingkat laba bersih. Beban keuangan masih menjadi salah satu beban terbesar dengan nilai Rp2,79 triliun, meskipun sedikit menurun dibandingkan Rp2,84 triliun pada tahun sebelumnya. Waskita Karya juga membukukan bagian rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp149,41 miliar. Dengan demikian, kenaikan pendapatan belum cukup untuk mengimbangi peningkatan biaya proyek, beban pendanaan, dan kerugian investasi, sehingga ruang perseroan untuk memperbaiki profitabilitas tetap terbatas.

Posisi keuangan Waskita Karya per 30 September 2026 menunjukkan tekanan yang semakin besar pada struktur permodalan. Total aset tercatat Rp73,07 triliun, naik 3,30% dibandingkan Rp70,73 triliun pada akhir 2025. Kenaikan aset tersebut belum diikuti penguatan sumber pendanaan internal. Pada periode yang sama, total liabilitas meningkat 7,41%, dari Rp67,06 triliun menjadi Rp72,03 triliun. Dengan demikian, pertumbuhan kewajiban berlangsung lebih cepat daripada pertumbuhan aset dan mempersempit ruang keuangan perusahaan.

Total ekuitas turun 71,71%, dari Rp3,67 triliun pada akhir 2025 menjadi hanya Rp1,04 triliun per September 2026. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan berada dalam posisi negatif Rp3,34 triliun, memburuk dibandingkan posisi negatif Rp1,03 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Ekuitas total masih tercatat positif karena terdapat kepentingan non-pengendali sebesar Rp4,38 triliun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa sebagian besar penyangga ekuitas berasal dari kepentingan di luar pemilik entitas induk.

Tekanan juga terlihat dari perkembangan likuiditas. Kas dan setara kas menurun 65,90%, dari Rp4,41 triliun menjadi Rp1,50 triliun. Arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat negatif Rp1,14 triliun, menandakan kegiatan operasional belum menghasilkan kas yang memadai. Sementara itu, aktivitas investasi menyerap Rp1,17 triliun. Catatan laporan keuangan menyebutkan akumulasi defisit telah mencapai Rp20,80 triliun. Selain itu, liabilitas jangka pendek melampaui aset lancar sebesar Rp12,48 triliun. Kondisi tersebut mencerminkan tantangan serius dalam memenuhi kewajiban jangka pendek, sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan arus kas dan pemulihan ekuitas menjadi aspek penting bagi keberlanjutan keuangan Waskita.

Untuk memitigasi risiko dan menangani tekanan keuangan, Waskita Karya menjalankan delapan stream inisiatif penyehatan keuangan. Program tersebut mencakup divestasi secara bertahap atas sisa ruas tol, pemanfaatan fasilitas penjaminan pemerintah, serta restrukturisasi utang pada tingkat perusahaan induk dan anak usaha. Langkah-langkah ini menjadi bagian dari upaya manajemen untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan kewajiban dan memperkuat kondisi keuangan perseroan.

Dalam restrukturisasi utang berdasarkan master restructuring agreement (MRA), Waskita telah membayar tranche A sebesar Rp2,198 triliun. Setelah pembayaran tersebut, sisa pokok tranche A tercatat sebesar Rp2,154 triliun. Sementara itu, pembayaran untuk tranche B telah mencapai Rp280,7 miliar, dengan sisa pokok sebesar Rp21,736 triliun. Perkembangan pembayaran ini menjadi bagian dari pelaksanaan kesepakatan restrukturisasi utang yang dilakukan bersama para kreditur.

Perseroan juga menyelesaikan proses restrukturisasi Obligasi PUB III Tahap IV Tahun 2019 melalui rapat umum pemegang obligasi yang diselenggarakan pada 3 September 2026. Berdasarkan kesepakatan tersebut, restrukturisasi seluruh obligasi non-penjaminan yang berkaitan dengan empat perjanjian wali amanat telah selesai. Penyelesaian ini melengkapi langkah penataan kewajiban obligasi yang ditempuh Waskita dalam program penyehatan keuangannya.

Per 30 September 2026, outstanding fasilitas kredit modal kerja penjaminan tercatat sebesar Rp5,06 triliun. Untuk fasilitas Obligasi III Tahun 2021, Waskita telah mengajukan klaim penjaminan sebesar Rp722 miliar pada 25 September 2026. Data tersebut menjadi bagian dari perkembangan pengelolaan fasilitas pembiayaan dan penjaminan perseroan hingga akhir September 2026.

Baca juga: Ramalan Karier Zodiak Taurus Sabtu, 5 September 2026: Kerja Cerdas dan Tetap Fokus | Ramalan Karier Zodiak Gemini Sabtu, 5 September 2026: Tunjukkan Kemampuanmu | Ramalan Karier Zodiak Virgo Sabtu, 5 September 2026: Selesaikan Tugas yang Tertunda