Jakarta | Tekanan kembali membayangi pasar mata uang Asia pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Kondisi tersebut terjadi meskipun dolar Amerika Serikat (AS) sedikit terkoreksi pada perdagangan pagi. Pergerakan pasar menunjukkan bahwa pelemahan masih menjadi arah utama bagi sebagian besar mata uang yang dipantau di kawasan tersebut.
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.17 WIB, enam dari 10 mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Pada saat yang sama, tiga mata uang menguat, sedangkan satu mata uang bergerak stagnan. Data tersebut menempatkan rupiah dalam kelompok mata uang yang mengalami penurunan pada perdagangan pagi, bersama sejumlah mata uang regional lainnya.
Nilai tukar rupiah tercatat turun 0,22% ke level Rp17.935 per dolar AS. Penurunan ini menunjukkan bahwa rupiah masih berada di bawah tekanan ketika dibandingkan dengan mata uang AS, meskipun dolar sedang mengalami koreksi tipis. Dalam konteks regional, pelemahan rupiah bukanlah yang terdalam pada sesi tersebut.
Dolar Taiwan mencatat penurunan paling dalam, yakni sebesar 0,40%. Setelah itu, won Korea Selatan melemah 0,35%, sementara peso Filipina turun 0,13%. Yuan China dan ringgit Malaysia masing-masing terkoreksi 0,05%. Pergerakan tersebut memperlihatkan variasi tekanan di mata uang Asia, dengan tingkat pelemahan yang berbeda-beda.
Dengan demikian, posisi rupiah pada perdagangan pagi berada di mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS. Penurunan sebesar 0,22% membuat rupiah bergerak lebih lemah dibandingkan yuan China dan ringgit Malaysia, tetapi masih lebih baik daripada dolar Taiwan serta won Korea Selatan. Sementara itu, tiga mata uang Asia lainnya mencatat penguatan dan satu mata uang tidak mengalami perubahan, berdasarkan pemantauan Refinitiv hingga pukul 09.17 WIB.
Yen Jepang mencatat penguatan paling besar di mata uang Asia yang bergerak naik pada perdagangan pagi. Yen menguat 0,20% terhadap dolar AS, menunjukkan adanya permintaan terhadap mata uang Jepang di tengah pergerakan pasar yang masih dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global dan arah dolar AS.
Penguatan juga terlihat pada baht Thailand yang naik 0,06% serta dolar Singapura yang menguat tipis 0,01%. Pergerakan kedua mata uang tersebut berlangsung terbatas, sehingga belum menunjukkan perubahan besar dalam sentimen regional. Sementara itu, dong Vietnam tidak mengalami perubahan terhadap dolar AS. Kondisi ini menggambarkan bahwa pasar valuta asing Asia masih bergerak selektif, dengan sebagian mata uang mampu menguat ketika tekanan terhadap dolar sedikit mereda.
Di pasar yang lebih luas, indeks dolar AS atau DXY turun 0,14% menjadi 102,441 pada pagi perdagangan Asia. Koreksi tersebut memberikan ruang terbatas bagi sejumlah mata uang regional untuk menguat, termasuk yen, baht, dan dolar Singapura. Namun, penurunan harian itu belum cukup untuk mengubah gambaran umum mengenai posisi dolar AS.
Pada sesi sebelumnya, DXY justru melonjak 0,37% ke 102,58 dan berada di sekitar level tertinggi sejak April 2025. Dengan demikian, pelemahan pada perdagangan pagi lebih mencerminkan koreksi setelah penguatan tajam, bukan pembalikan tren yang berarti. Dolar AS masih memiliki pijakan kuat, sementara mata uang Asia cenderung bergerak hati-hati karena investor menilai kembali prospek suku bunga, kondisi ekonomi global, dan potensi perubahan arus modal. Kontras koreksi harian DXY dan levelnya yang tetap tinggi menjadi faktor penting dalam membaca pergerakan pasar pada 13 Oktober.
Penguatan dolar pada perdagangan sebelumnya terutama ditopang meningkatnya permintaan terhadap aset aman. Investor kembali mengurangi eksposur pada aset berisiko setelah konflik di Timur Tengah memanas, sehingga mata uang Amerika Serikat memperoleh dukungan sebagai tempat berlindung ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Tekanan tersebut turut membebani sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah, karena pelaku pasar cenderung memindahkan dana ke instrumen berdenominasi dolar.
Perhatian pasar tertuju pada aktivitas kelompok Houthi yang didukung Iran. Kelompok tersebut meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sementara dua kapal tanker juga diserang pada akhir pekan. Rangkaian perkembangan ini menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai keamanan pasokan energi global. Risiko gangguan terhadap jalur pengiriman minyak membuat investor memperhitungkan kemungkinan pasokan lebih ketat, biaya transportasi meningkat, serta ketidakpastian yang lebih besar bagi perekonomian dunia.
Respons pasar terlihat pada pergerakan harga minyak mentah. Harga Brent naik 2,3% menjadi US$107,17 per barel, mendekati level tertinggi dalam dua pekan. Dengan kenaikan tersebut, Brent berada sekitar 45% lebih tinggi dibandingkan posisinya sebelum perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dimulai. Lonjakan energi berpotensi memperbesar tekanan biaya bagi rumah tangga dan perusahaan, sekaligus meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama.
Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve pun ikut terpengaruh. Harga energi yang lebih tinggi dapat menyulitkan penurunan inflasi, sehingga bank sentral AS diperkirakan masih perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat. Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack menyatakan bahwa bank sentral perlu bergerak relatif cepat menuju kebijakan yang lebih ketat untuk menekan inflasi yang dinilainya semakin meluas. Prospek suku bunga tinggi tersebut memperkuat daya tarik dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Posisi beli terhadap dolar Amerika Serikat meningkat tajam hingga pekan yang berakhir pada 7 Oktober. Data pasar menunjukkan posisi beli bersih mencapai sekitar US$36 miliar, atau lebih dari empat kali lipat dibandingkan sekitar US$8,4 miliar yang tercatat dalam waktu tiga pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset berdenominasi dolar ketika pelaku pasar kembali berhati-hati terhadap prospek ekonomi global dan memperkuat strategi perlindungan terhadap risiko.
Meski demikian, ruang penguatan dolar dinilai mulai terbatas. Joel Kruger dari LMAX Group menilai gelombang penghindaran risiko terbaru belum tentu berkembang menjadi penguatan dolar yang berkelanjutan. Sejumlah faktor dapat mengurangi dorongan tersebut, termasuk data ekonomi Amerika Serikat yang mulai menunjukkan perlambatan, tekanan inflasi yang perlahan mereda, serta ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang sebagian besar telah tercermin dalam harga pasar.
Perhatian pelaku pasar kini beralih pada laporan inflasi konsumen Amerika Serikat atau CPI yang dijadwalkan terbit pada Rabu waktu setempat. Data ini menjadi salah satu indikator penting sebelum rapat kebijakan The Fed pada akhir Oktober, karena dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai arah suku bunga dan ketahanan perekonomian AS. Perubahan inflasi juga berpotensi memengaruhi imbal hasil obligasi serta daya tarik dolar terhadap mata uang utama dan sejumlah mata uang Asia.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan ini mencapai 78%, meningkat dari 51% sebulan sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi pasar telah bergeser ke arah kebijakan yang lebih stabil. Namun, Marc Chandler memperkirakan angka CPI kemungkinan masih cukup tinggi. Karena itu, pelaku pasar akan mencermati rincian laporan tersebut, bukan hanya angka utamanya, sembari menunggu keputusan resmi The Fed yang belum tersedia.
Baca juga: Tiga Menko dan Sejumlah Tokoh Hadiri Peluncuran Buku Terbaru Bamsoet ke-38 dan Buku Perjalanan Panjang Bamsoet Karya Wartawan Senior J.Osdar | Kondisi finansial yang sempat mengalami tekanan juga diyakini berangsur membaik

