Banjir Bandang Rendam 120 Rumah di Padang, 498 Jiwa Terdampak

oleh -113 Dilihat
oleh
Banjir Bandang Rendam 120 Rumah di Padang, 498 Jiwa Terdampak

Kota Padang | Banjir bandang melanda Kota Padang, Sumatra Barat, dan menimbulkan dampak terhadap warga serta permukiman di wilayah tersebut. Berdasarkan pendataan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, sebanyak 498 jiwa terdampak dalam peristiwa itu.

Selain berdampak pada ratusan jiwa, bencana tersebut juga menyebabkan sekitar 120 unit rumah terendam. Data ini menjadi gambaran awal mengenai dampak banjir bandang yang tercatat di Kota Padang berdasarkan proses pendataan yang dilakukan oleh BPBD.

Pembaruan informasi itu disampaikan BPBD Kota Padang melalui data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Kota Padang. Data sementara tersebut dihimpun hingga Sabtu pukul 22.45 WIB dan dikutip pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Jumlah warga terdampak dan rumah terendam masih merujuk pada pendataan sementara. BPBD menyampaikan informasi tersebut sebagai pembaruan mengenai kondisi dampak banjir bandang di Kota Padang. Dengan demikian, angka 498 jiwa dan sekitar 120 unit rumah menjadi data yang tercatat dalam laporan sementara Pusdalops Kota Padang hingga waktu pembaruan tersebut.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), genangan banjir dilaporkan tersebar di sejumlah wilayah Kota Padang. Dampak tidak hanya terkonsentrasi pada satu kawasan, tetapi mencakup tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa banjir memengaruhi beberapa kelurahan dengan karakter wilayah yang berbeda, sehingga penanganan dilakukan berdasarkan lokasi terdampak.

Di Kecamatan Kuranji, wilayah yang disebutkan dalam laporan adalah Kelurahan Kuranji. Kelurahan ini menjadi salah satu lokasi yang terdampak banjir berdasarkan pendataan BPBD. Sementara itu, Kecamatan Koto Tangah mencakup beberapa kelurahan yang dilaporkan mengalami genangan, yakni Lubuk Minturun, Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, dan Tabing Banda Gadang. Keempat kelurahan tersebut merupakan bagian dari sebaran wilayah terdampak yang tercatat dalam laporan.

Adapun di Kecamatan Nanggalo, banjir dilaporkan terjadi di Kelurahan Gurun Laweh. Dengan demikian, lokasi yang terdampak mencakup Kelurahan Kuranji di Kecamatan Kuranji, empat kelurahan di Kecamatan Koto Tangah, serta Kelurahan Gurun Laweh di Kecamatan Nanggalo. Rincian ini memperlihatkan bahwa dampak banjir tersebar lintas kecamatan dan kelurahan, bukan hanya terjadi pada satu titik.

Pemetaan berdasarkan kecamatan dan kelurahan membantu menggambarkan cakupan kejadian secara lebih jelas. Data BPBD menjadi dasar untuk mengidentifikasi wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan banjir. Setiap lokasi yang disebutkan—Kuranji, Lubuk Minturun, Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, Tabing Banda Gadang, dan Gurun Laweh—tercatat sebagai bagian dari wilayah terdampak dalam laporan tersebut.

Kondisi paling serius dilaporkan terjadi di Kecamatan Kuranji, salah satu wilayah yang terdampak banjir bandang di Kota Padang. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, terdapat lima rumah di kawasan tersebut yang mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda. Rinciannya, empat unit rumah mengalami rusak sedang, sedangkan satu unit lainnya mengalami rusak berat.

Data kerusakan itu perlu dibedakan dari jumlah rumah yang terendam secara keseluruhan. Banjir bandang dilaporkan merendam 120 rumah dan berdampak terhadap 498 jiwa di sejumlah wilayah. Angka tersebut menggambarkan cakupan genangan dan jumlah warga terdampak, bukan jumlah bangunan yang seluruhnya mengalami kerusakan. Di Kecamatan Kuranji, hanya sebagian rumah yang terdata mengalami kerusakan fisik berdasarkan hasil pendataan awal BPBD.

Kerusakan sedang pada empat rumah menunjukkan bahwa bangunan masih mungkin memerlukan perbaikan pada bagian tertentu sebelum dapat digunakan secara normal. Sementara itu, satu rumah yang masuk kategori rusak berat membutuhkan penanganan lebih lanjut karena kondisi struktur atau bagian utama bangunannya tidak lagi aman. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan tingkat kerusakan dan kebutuhan bantuan bagi setiap keluarga.

Selain berdampak pada hunian, banjir juga mengganggu mobilitas masyarakat. Akses jalan di kawasan Guo, Kecamatan Kuranji, dilaporkan terputus akibat genangan dan material yang terbawa arus. Kondisi ini dapat menghambat aktivitas warga, distribusi bantuan, serta proses evakuasi apabila debit air kembali meningkat. Penanganan akses menjadi penting agar masyarakat dapat menjangkau fasilitas pelayanan dan petugas dapat melakukan pemantauan di lokasi terdampak.

Sebanyak 238 warga yang terdampak banjir di sejumlah lokasi di Kota Padang telah berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan. Evakuasi dilakukan sebagai bagian dari penanganan terhadap dampak banjir yang merendam permukiman warga. Tim gabungan terus membantu proses pemindahan masyarakat dari lokasi terdampak menuju tempat yang lebih aman, terutama bagi warga yang berada di area dengan kondisi lingkungan berisiko.

Penanganan di lapangan tetap dilakukan dengan memperhatikan perkembangan kondisi banjir dan keselamatan warga. Masyarakat yang telah dievakuasi diimbau mengikuti arahan petugas serta tidak kembali ke rumah atau lokasi terdampak sebelum dinyatakan aman. Koordinasi tim SAR gabungan, BPBD, dan unsur terkait diperlukan agar proses evakuasi serta penanganan warga dapat berlangsung dengan tertib.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana susulan. Ancaman tersebut mencakup banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang yang dapat terjadi di sejumlah wilayah terdampak maupun kawasan sekitarnya.

Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada warga yang tinggal di sekitar sungai, wilayah rawan banjir, serta kawasan dengan kondisi tanah labil. Warga diminta memantau lingkungan secara berkala dan memperhatikan perubahan debit air, kondisi tanah, maupun situasi di sekitar tempat tinggal. Apabila debit air meningkat, masyarakat diminta segera menjauhi lokasi berbahaya dan mengikuti petunjuk petugas untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan.

BPBD juga mengingatkan agar warga tidak mengabaikan tanda-tanda perubahan kondisi lingkungan. Informasi mengenai situasi di lapangan perlu diperhatikan sebagai dasar untuk mengambil langkah pengamanan, khususnya bagi masyarakat yang berada di dekat aliran sungai dan kawasan rawan pergerakan tanah. Keselamatan warga menjadi prioritas dalam menghadapi dampak banjir serta kemungkinan bencana susulan.