Padang | Hujan lebat mengguyur Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dan memicu banjir di sejumlah titik. Berdasarkan data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), hujan mulai turun sekitar pukul 12.00 WIB. Intensitas hujan yang berlangsung sejak siang tersebut kemudian diikuti laporan mengenai genangan dan banjir di beberapa wilayah kota.
Laporan banjir mulai diterima pada pukul 14.25 WIB. Informasi itu menjadi penanda bahwa kondisi cuaca di Padang telah berdampak pada aktivitas warga di sejumlah kawasan. Tim terkait selanjutnya melakukan pemantauan terhadap lokasi-lokasi yang dilaporkan terdampak, sementara informasi mengenai situasi di lapangan terus dihimpun untuk memastikan kebutuhan penanganan.
Dua kecamatan yang tercatat mengalami dampak paling parah adalah Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Koto Tangah. Kedua wilayah tersebut menjadi perhatian utama dalam penanganan banjir yang terjadi setelah hujan deras mengguyur sejak siang hari. Peristiwa ini menunjukkan bahwa curah hujan tinggi dalam waktu singkat dapat memicu banjir di beberapa bagian Kota Padang secara bersamaan. Data awal Basarnas mengenai waktu mulai hujan dan penerimaan laporan menjadi dasar dalam menggambarkan kronologi kejadian pada Sabtu sore itu. Penanganan kemudian diarahkan pada titik-titik yang terdampak, khususnya di Kuranji dan Koto Tangah, sembari menunggu pembaruan informasi resmi mengenai perkembangan kondisi banjir di lapangan.
Di Kecamatan Kuranji, dampak banjir paling berat dilaporkan terjadi di kawasan Guo Lapau Munggu. Genangan di wilayah tersebut merendam sejumlah bagian permukiman dan menghambat aktivitas warga. Kondisi ini membuat kawasan Guo Kuranji menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian utama dalam penanganan banjir oleh petugas gabungan. Warga yang terdampak perlu mendapatkan pemantauan, terutama mereka yang berada di rumah dengan akses keluar terbatas atau terisolasi akibat ketinggian air.
Sementara itu, di Kecamatan Koto Tangah, genangan cukup parah melanda kawasan Lumin Park dan Kampung Apa. Air yang menggenangi kawasan tersebut berdampak pada mobilitas masyarakat serta meningkatkan kebutuhan evakuasi bagi warga yang terjebak. Petugas gabungan dikerahkan untuk membantu proses penyelamatan dan memastikan warga dapat dipindahkan ke lokasi yang lebih aman apabila situasi terus memburuk.
Kepala Pelaksana BPBD Padang Hendri Zulviton mengatakan banjir juga terjadi di sejumlah daerah lain di Kota Padang. Namun, tingkat keparahan di lokasi-lokasi tersebut tidak separah kondisi di kawasan Guo Kuranji dan Lumin Park. Perbedaan dampak itu membuat penanganan diprioritaskan pada titik yang mengalami genangan paling tinggi dan memiliki risiko lebih besar terhadap keselamatan warga.
BPBD bersama unsur terkait terus memantau perkembangan di lapangan, termasuk perubahan ketinggian air dan kondisi akses menuju permukiman. Pemantauan diperlukan untuk menentukan langkah berikutnya, baik berupa evakuasi tambahan maupun distribusi bantuan bagi warga yang terdampak. Masyarakat di sekitar kawasan banjir juga diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan petugas selama proses penanganan berlangsung.
Setelah menerima laporan banjir yang melanda Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Koto Tangah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang segera memusatkan penanganan darurat pada warga yang terjebak. Fokus tersebut menjadi langkah utama dalam merespons situasi di dua wilayah yang terdampak genangan. BPBD menempatkan keselamatan warga sebagai perhatian utama, terutama bagi mereka yang membutuhkan pertolongan akibat banjir.
Penanganan tidak diarahkan terlebih dahulu pada kegiatan lain, melainkan pada upaya memastikan warga yang terjebak dapat segera dievakuasi. Langkah ini dilakukan setelah informasi mengenai banjir diterima oleh petugas. Dengan demikian, respons awal BPBD berpusat pada kebutuhan paling mendesak, yaitu membantu warga keluar dari lokasi yang terdampak dan memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman.
Hendri Zulviton menegaskan bahwa evakuasi menjadi prioritas BPBD pada saat itu. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keselamatan manusia menjadi dasar pengambilan keputusan dalam penanganan banjir di Padang. “Evakuasi menjadi prioritas saat itu,” ujar Hendri, sebagaimana penjelasan mengenai langkah darurat yang dilakukan setelah laporan banjir diterima.
Prioritas tersebut juga menggambarkan pentingnya respons cepat dalam menghadapi bencana hidrometeorologi. Ketika laporan mengenai warga yang terjebak masuk, perhatian BPBD diarahkan pada tindakan penyelamatan yang paling mendesak. Penanganan di Kecamatan Kuranji dan Kecamatan Koto Tangah menjadi bagian dari respons darurat terhadap banjir yang merendam kedua kecamatan tersebut.
BPBD tetap menjadikan evakuasi sebagai inti penanganan selama situasi darurat berlangsung. Pernyataan Hendri memperjelas bahwa tindakan tersebut bukan sekadar bagian dari operasi lapangan, melainkan keputusan utama untuk melindungi warga terdampak. Dengan fokus itu, upaya penanggulangan diarahkan pada penyelamatan warga yang terjebak, sesuai laporan yang diterima dari wilayah banjir.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Padang menindaklanjuti laporan banjir yang merendam dua kecamatan dengan mengerahkan personel untuk mendukung proses evakuasi. Berdasarkan informasi dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), sebanyak tujuh personel rescuer diberangkatkan menuju lokasi kejadian pada pukul 14.40 WIB. Pengerahan tersebut dilakukan untuk menjalankan operasi pencarian dan pertolongan bagi warga yang masih berada di kawasan terdampak.
Dalam pelaksanaan tugasnya, tim rescuer disiapkan untuk membantu penanganan warga yang terjebak akibat genangan banjir. Keberangkatan personel dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Padang menjadi bagian dari respons terhadap laporan kondisi di lapangan, khususnya terkait kebutuhan pencarian, pertolongan, dan evakuasi. Informasi mengenai operasi tersebut disampaikan Basarnas sebagai tindak lanjut setelah banjir dilaporkan merendam wilayah pada dua kecamatan di Padang.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat informasi lebih lanjut mengenai jumlah korban yang terdampak maupun warga yang telah berhasil dievakuasi oleh tim gabungan. Data mengenai kemungkinan adanya korban jiwa akibat banjir juga belum diketahui. Perkembangan operasi pencarian dan pertolongan, termasuk hasil penyisiran atau pendataan warga terdampak, masih menunggu informasi resmi berikutnya dari petugas di lokasi dan pihak berwenang.

