Banda Aceh | Agusni AH meluncurkan buku cerita berjudul “Tikai” di tengah kesibukannya menjalankan tanggung jawab sebagai Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh. Kehadiran buku tersebut menjadi penanda bahwa aktivitas dalam urusan kepemiluan tidak menghapus perhatian Agusni terhadap dunia sastra dan proses kreatif yang telah menjadi bagian penting dari dirinya.
Peluncuran “Tikai” memperlihatkan sosok Agusni dalam dua peran yang berjalan beriringan. Di satu sisi, ia mengemban amanah kelembagaan yang menuntut ketelitian, tanggung jawab, serta perhatian terhadap berbagai persoalan kepemiluan. Di sisi lain, ia tetap menjaga ruang untuk membaca kehidupan secara lebih reflektif melalui karya sastra. Buku ini menunjukkan bahwa kesibukan dalam jabatan publik masih dapat berjalan bersama kegemaran menulis dan kepekaan terhadap pengalaman manusia.
Kehadiran buku ini sekaligus memperkaya gambaran tentang Agusni AH di luar perannya sebagai penyelenggara pemilu. Ia tidak hanya dikenal melalui tanggung jawab yang diembannya dalam urusan kepemiluan, tetapi juga melalui komitmen terhadap sastra. “Tikai” menjadi bukti bahwa dunia kerja dan dunia kreatif dapat saling melengkapi, terutama ketika keduanya berangkat dari perhatian terhadap manusia, kehidupan, dan berbagai persoalan batin yang menyertainya.
Tikai merupakan kumpulan 31 tulisan Agusni AH yang dihimpun dalam buku setebal 206 halaman. Jumlah tersebut menghadirkan ragam cerita dengan suasana, konflik, dan intensitas emosi yang berbeda, tetapi tetap terhubung oleh perhatian yang kuat terhadap kehidupan batin manusia. Buku ini tidak semata-mata menampilkan rangkaian peristiwa, melainkan mengajak pembaca memperhatikan perasaan yang sering tersembunyi di balik tindakan, pilihan, dan diam seseorang.
Di dalamnya, cinta tampil berdampingan dengan kehilangan, penantian, luka, kenangan, dan doa. Setiap tema tidak berdiri sebagai gagasan yang terpisah, sebab pengalaman manusia kerap mempertemukan beberapa perasaan sekaligus. Cinta dapat melahirkan harapan, tetapi juga menyisakan penyesalan ketika keadaan berubah. Kehilangan dapat menghadirkan kesedihan, sekaligus membuka ruang bagi ingatan dan penerimaan. Sementara itu, doa menjadi bentuk pengharapan ketika manusia berhadapan dengan hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Seluruh tema tersebut disampaikan melalui cerita-cerita pendek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tokoh-tokohnya bukan figur yang jauh dari pengalaman pembaca, melainkan manusia yang mencintai, menunggu, berharap, menyesal, dan kehilangan. Mereka menghadapi keputusan yang tidak mudah, menyimpan luka yang belum selesai, serta berusaha menemukan makna dari kejadian yang menimpa. Dalam proses itu, pergulatan batin menjadi pusat perhatian: ada keinginan untuk bertahan, dorongan untuk melepaskan, dan kebutuhan untuk berdamai dengan takdir. Kedekatan situasi dan emosi membuat setiap tulisan memiliki daya pantul terhadap pengalaman personal pembaca, tanpa harus menggurui atau menawarkan jawaban tunggal atas persoalan hidup.
Aceh dalam buku cerita “Tikai” tidak sekadar menjadi latar geografis tempat tokoh-tokohnya bergerak. Wilayah ini hadir sebagai ruang hidup yang membentuk cara manusia memandang, merasakan, dan mengingat berbagai peristiwa. Unsur pesisir dan laut memberi napas yang khas bagi cerita, terutama melalui gambaran garis pantai, suara gelombang, angin asin, serta bentang air yang menyimpan jejak pengalaman. Laut bukan hanya pemandangan, melainkan juga lambang jarak, kehilangan, perjalanan, dan harapan yang terus berulang dalam kehidupan masyarakat.
Di samping laut, kampung menjadi ruang sosial yang mempertemukan tokoh dengan keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitarnya. Kehidupan kampung tergambar melalui kebiasaan sehari-hari, hubungan kekerabatan, percakapan antarmasyarakat, serta perhatian terhadap kabar dan nasib orang lain. Dari ruang inilah muncul suasana sosial yang akrab, tetapi juga menyimpan ketegangan, penilaian, dan kenangan masa lalu. Bahasa yang digunakan, cara tokoh berinteraksi, dan kebiasaan yang melekat dalam keseharian memperkuat identitas Aceh di dalam setiap tulisan.
Kehadiran Aceh tersebut membuat latar cerita bekerja lebih dalam daripada sekadar penunjuk lokasi. Ingatan tentang kampung, pesisir, keluarga, dan masyarakat menjadi bagian dari jiwa narasi, sehingga pengalaman batin tokoh terasa berakar pada tempat tertentu. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti kisah personal, tetapi juga merasakan warna budaya dan suasana kehidupan yang melingkupinya. “Tikai” merupakan salah satu cerita yang dipilih menjadi judul sampul buku, berdampingan secara tematik dengan cerita lain, seperti “Cinta di Ujung Senja”, “Limah”, “Emak”, “Deburan Ombak Silam”, dan “Sepotong Doa Terakhir”. Masing-masing judul memperluas gambaran tentang manusia, sementara Aceh memberi ruang, suara, dan ingatan yang menyatukan keseluruhan cerita.
Buku cerita “Tikai” menawarkan ruang refleksi bagi pembaca untuk menelusuri sisi batin manusia yang kerap tersembunyi di balik keseharian. Rangkaian kisah di dalamnya membawa pembaca menyusuri cinta yang datang terlambat, perpisahan yang meninggalkan luka, serta penantian panjang yang menguji ketabahan. Setiap pengalaman tidak hadir sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari perjalanan manusia dalam memahami kehilangan, menerima kenyataan, dan mencari makna di tengah perubahan hidup.
Dalam perjalanan itu, manusia juga diajak mencari jalan pulang, bukan hanya kepada dirinya sendiri, tetapi kepada Tuhan. Jalan tersebut tidak selalu lurus dan mudah. Ada keraguan, kesunyian, kenangan, serta pertanyaan yang tidak segera memperoleh jawaban. Namun, melalui doa dan keberanian untuk menatap ke dalam diri, pencarian itu perlahan menemukan arah. “Tikai” menghadirkan pengalaman batin tersebut dengan bahasa yang dekat, sehingga pergulatan tokoh-tokohnya dapat terasa seperti pantulan dari pengalaman pembaca.
Senja, ombak, hujan, kopi, kesunyian, dan doa menjadi serpihan pengalaman yang memperkaya suasana cerita. Unsur-unsur itu tidak sekadar berfungsi sebagai latar, melainkan membuka ruang bagi ingatan dan perasaan yang mungkin pernah dialami banyak orang. Ombak dapat mengingatkan pada hidup yang terus bergerak, senja pada waktu yang berlalu, sedangkan hujan dan secangkir kopi menghadirkan jeda untuk merenungkan hal-hal yang belum selesai. Di kesunyian dan doa, pembaca menemukan kesempatan untuk bercermin.
Agusni AH memandang bahwa cerita yang paling menyentuh sering kali bukan semata-mata kisah tentang orang lain. Cerita tersebut justru mampu mengingatkan seseorang secara diam-diam kepada dirinya sendiri: kepada cinta yang pernah tertunda, luka yang belum pulih, penantian yang masih disimpan, atau kerinduan untuk kembali mengenal Tuhan. Karena itu, “Tikai” menjadi ruang perjumpaan cerita dan pengalaman personal, tempat pembaca menyusuri batinnya sendiri melalui senja, ombak, hujan, kopi, kesunyian, dan doa.

