Kabupaten Maybrat | Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto menjelaskan bahwa dukungan intelijen memiliki peran penting dalam operasi keamanan di Papua. Menurut dia, informasi yang akurat membantu aparat memahami situasi di lapangan, termasuk pergerakan, lokasi, serta potensi ancaman dari kelompok bersenjata. Keterangan tersebut menjadi dasar bagi satuan operasi untuk menyusun langkah penindakan secara lebih terukur, sesuai kondisi wilayah dan perkembangan ancaman.
Dalam konteks operasi di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Lucky menyebut informasi intelijen sebagai salah satu unsur yang membantu menentukan sasaran operasi. Ketepatan informasi memungkinkan aparat memusatkan tindakan terhadap pihak yang diduga terlibat dalam kekerasan bersenjata, sehingga operasi tidak dilakukan secara sembarangan. Pendekatan berbasis informasi juga dinilai dapat mengurangi risiko terhadap masyarakat sipil yang tinggal di sekitar wilayah operasi, termasuk warga yang mungkin berada dekat dengan lokasi terjadinya gangguan keamanan.
Lucky menegaskan bahwa sinergi Badan Intelijen Negara (BIN) dan satuan operasi TNI menjadi elemen penting dalam menghadapi ancaman kekerasan bersenjata. Kerja sama tersebut mencakup pemanfaatan informasi untuk mendukung perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi operasi di lapangan. Dengan koordinasi yang baik, aparat dapat menyesuaikan tindakan berdasarkan situasi aktual, sekaligus memperhatikan keselamatan masyarakat. Penjelasan mengenai Maybrat menunjukkan bahwa dukungan intelijen tidak hanya berkaitan dengan pengumpulan data, tetapi juga dengan penyediaan gambaran situasi yang dapat membantu pengambilan keputusan secara lebih tepat dan bertanggung jawab.
Operasi gabungan dilaksanakan oleh pasukan Satgas Yonif Marinir 9 bersama Denkulf 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema terhadap kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Pelaksanaan penindakan tersebut menjadi bagian dari upaya aparat menghadapi aktivitas kelompok bersenjata di wilayah itu. Informasi mengenai operasi disampaikan oleh Lucky, yang menyebut adanya dukungan informasi intelijen dari Badan Intelijen Negara (BIN).
Menurut keterangan tersebut, informasi intelijen yang digunakan memiliki nilai A1. Dalam konteks penyampaian operasi, keterangan ini menunjukkan bahwa informasi dari BIN menjadi salah satu dukungan bagi pasukan gabungan dalam menentukan lokasi yang dipandang sebagai sasaran penindakan. Dengan demikian, hubungan intelijen dan operasi terletak pada pemanfaatan informasi untuk mengarahkan tindakan aparat terhadap lokasi yang berkaitan dengan kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya.
Dukungan informasi intelijen tersebut tidak berdiri sebagai operasi terpisah, melainkan menjadi bahan yang membantu pelaksanaan tugas pasukan gabungan di lapangan. Penentuan lokasi sasaran dilakukan berdasarkan informasi yang disampaikan dalam laporan operasi, sementara penindakan dijalankan oleh unsur Satgas Yonif Marinir 9 dan Denkulf 4 Satgas Rajawali V Koops TNI Habema. Keterangan tentang nilai A1 menegaskan tingkat keandalan informasi sebagaimana disebutkan oleh Lucky, tanpa mengubah pembagian peran unsur intelijen sebagai penyedia informasi dan pasukan gabungan sebagai pelaksana penindakan.
Pasukan gabungan TNI disebut menemukan lokasi persembunyian yang diduga menjadi tempat berada Manfret Fatem, komandan operasi TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya, bersama dua komandan batalyon. Informasi tersebut disampaikan berdasarkan keterangan Lucky, yang menyebut dua nama lain di lokasi itu ialah Anton Fatem, yang disebut sebagai Komandan Batalyon Ayosami, dan Yesias Fatem, yang disebut sebagai Komandan Batalyon Mosata. Temuan tersebut menjadi bagian dari operasi pasukan gabungan di wilayah Maybrat.
Berdasarkan keterangan yang sama, ketiganya disebut melakukan perlawanan ketika pasukan TNI berada di sekitar lokasi. Mereka dilaporkan menembakkan senjata ke arah pasukan, sehingga terjadi kontak senjata. Dalam peristiwa itu, Manfret Fatem dilaporkan tewas di lokasi. Informasi tersebut tetap bersumber dari keterangan Lucky dan belum diuraikan lebih lanjut mengenai kondisi atau rangkaian kejadian secara terpisah.
Anton Fatem dan Yesias Fatem juga dilaporkan tewas ketika berusaha melarikan diri menuju kawasan Sungai Frambu. Namun, keterangan mengenai keberadaan kedua jenazah itu masih disertai informasi bahwa mereka disebut tenggelam di sungai. Karena itu, pencarian terhadap dua jenazah tersebut masih dilakukan oleh pihak terkait. Proses pencarian diperlukan untuk memastikan lokasi dan kondisi jenazah, sekaligus mendukung penanganan lanjutan atas kejadian di area operasi. Rangkaian informasi mengenai identitas, perlawanan, serta laporan kematian ketiga orang tersebut disampaikan sebagai keterangan yang masih perlu dipahami sesuai sumbernya, tanpa menambahkan kepastian di luar laporan yang tersedia.
Dari lokasi kontak senjata di wilayah Maybrat, aparat mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan kelompok bersenjata. Barang bukti tersebut meliputi satu pucuk senjata api jenis AK-101, puluhan butir amunisi tajam, serta selembar bendera Bintang Kejora. Seluruh barang bukti selanjutnya diamankan untuk kepentingan penyelidikan, pendalaman informasi, dan proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Komandan Satuan Tugas terkait, Lucky, menegaskan bahwa TNI akan terus menjalankan tugas pengamanan wilayah dan penegakan hukum terhadap setiap ancaman kekerasan bersenjata. Pelaksanaan tugas tersebut, menurutnya, dilakukan secara profesional, tegas, dan terukur, dengan mempertimbangkan situasi lapangan serta keselamatan seluruh pihak yang berada di sekitar lokasi operasi.
Personel di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III atau Kogabwilhan III wajib mengedepankan rules of engagement (ROE), ketentuan perundang-undangan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Setiap tindakan harus didasarkan pada kebutuhan operasional yang sah, proporsionalitas, serta upaya meminimalkan risiko terhadap masyarakat sipil. Prinsip salus populi suprema lex esto, yang dimaknai bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi, menjadi landasan penting dalam pelaksanaan pengamanan.
Prioritas operasi mencakup keselamatan masyarakat sipil, perlindungan warga, dan pemeliharaan stabilitas keamanan di Papua. Dengan demikian, tindakan penegakan hukum tidak hanya diarahkan untuk menghadapi ancaman, tetapi juga memastikan warga tetap dapat menjalankan aktivitasnya secara aman. Akuntabilitas, koordinasi, dan kepatuhan terhadap prosedur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap tahapan tugas.
Operasi di Maybrat disebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan TNI dalam menjaga keamanan di Papua Barat Daya. Dukungan informasi dari BIN serta koordinasi antarsatuan diharapkan memperkuat efektivitas pelaksanaan tugas, dengan tetap menjaga akuntabilitas, kepatuhan hukum, dan perlindungan masyarakat.

