Strategi Bank Indonesia Menjaga Rupiah di Tengah Gejolak Global

oleh -274 Dilihat
oleh
Strategi Bank Indonesia Menjaga Rupiah di Tengah Gejolak Global

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai tingginya ketidakpastian geopolitik global menjadi tantangan serius bagi bank sentral, termasuk Bank Indonesia. Perubahan situasi politik dan keamanan di berbagai kawasan berlangsung cepat, sehingga memengaruhi ekspektasi pelaku pasar, harga komoditas, serta arah kebijakan moneter negara-negara utama. Dalam kondisi tersebut, bank sentral perlu mencermati setiap perkembangan global karena dampaknya dapat segera merambat ke pasar keuangan domestik melalui perdagangan, investasi, maupun pergerakan nilai tukar.

Gejolak di Timur Tengah menjadi salah satu sumber risiko yang paling diperhatikan. Konflik dan ketegangan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu jalur distribusi serta rantai pasok global, terutama untuk energi dan komoditas strategis. Hambatan pada pengiriman barang dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, kemudian mendorong kenaikan harga di berbagai negara. Tekanan tersebut berisiko memperlambat pemulihan ekonomi sekaligus menyulitkan bank sentral dalam menjaga keseimbangan pengendalian inflasi dan pertumbuhan.

Inflasi dunia juga menunjukkan kecenderungan meningkat, termasuk di Amerika Serikat. Perkembangan ini memperkuat kemungkinan bahwa suku bunga acuan global akan dipertahankan pada tingkat tinggi dalam waktu lebih lama. Persepsi tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury, yang membuat aset keuangan Amerika Serikat semakin menarik bagi investor internasional. Pada saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat menguat terhadap banyak mata uang utama dan mata uang negara berkembang.

Situasi suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer kemudian mendorong peningkatan arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil kompetitif. Arus keluar tersebut dapat menekan harga obligasi dan saham domestik, meningkatkan volatilitas pasar, serta memperlemah rupiah. Tekanan ini menjadi tantangan bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar tanpa mengabaikan dinamika perekonomian nasional.

Di tengah gejolak global dan tekanan eksternal terhadap pasar keuangan, Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik. Penilaian ini menjadi bagian penting dalam melihat kemampuan perekonomian nasional menghadapi perubahan lingkungan global yang dapat meningkatkan volatilitas pasar, termasuk pergerakan nilai tukar dan arus modal.

Indikator pertama yang disebutkan adalah pertumbuhan ekonomi yang masih kuat. Aktivitas ekonomi domestik tetap menunjukkan kinerja yang mendukung, sehingga pertumbuhan menjadi salah satu dasar bagi Bank Indonesia dalam menilai kondisi fundamental Indonesia. Perkembangan tersebut dipertimbangkan bersama dinamika global ketika bank sentral merespons tekanan yang muncul di pasar.

Indikator kedua adalah inflasi yang tetap berada dalam rentang proyeksi Bank Indonesia. Kesesuaian inflasi dengan rentang yang telah diproyeksikan menunjukkan bahwa perkembangan harga masih berada dalam kerangka yang menjadi acuan bank sentral. Kondisi ini menjadi bagian dari penilaian Bank Indonesia terhadap stabilitas perekonomian di tengah tekanan dari luar negeri.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih kuat dan inflasi yang tetap berada dalam rentang proyeksi, Bank Indonesia memiliki pijakan dalam merespons volatilitas pasar. Kedua indikator tersebut menjadi landasan penilaian terhadap ketahanan fundamental ekonomi Indonesia, sekaligus dipertimbangkan dalam menghadapi gejolak global. Pernyataan mengenai kondisi fundamental ini tidak mengabaikan adanya tekanan eksternal, melainkan menempatkannya dalam konteks perkembangan ekonomi domestik yang tetap menjadi perhatian bank sentral.

Bank Indonesia menyiapkan respons cepat untuk mengantisipasi arus keluar modal yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Ketika investor global mengurangi penempatan dana di pasar domestik, permintaan terhadap valuta asing dapat meningkat dan memengaruhi stabilitas nilai tukar. Dalam situasi tersebut, kecepatan serta ketepatan respons bank sentral menjadi penting agar gejolak pasar tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas. Destry menegaskan bahwa Bank Indonesia terus memantau dinamika global dan kondisi pasar keuangan untuk menentukan langkah yang diperlukan dalam menjaga stabilitas rupiah.

Salah satu langkah yang digunakan adalah intervensi di pasar spot. Instrumen ini berfungsi mendukung keseimbangan transaksi valuta asing secara langsung ketika tekanan terhadap rupiah meningkat. Bank Indonesia juga dapat melakukan intervensi melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), yang berperan menyediakan instrumen lindung nilai di pasar domestik. Selain itu, Non-Deliverable Forward (NDF) turut menjadi bagian dari perangkat intervensi yang dapat digunakan untuk merespons perkembangan pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar. Setiap instrumen tersebut digunakan sesuai fungsi dan kondisi pasar yang dihadapi.

Selain meredam tekanan dari kemungkinan arus keluar modal, Bank Indonesia berupaya memperkuat arus modal masuk melalui kebijakan insentif biaya lindung nilai atau hedging. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi pertimbangan biaya yang dihadapi investor ketika mengelola risiko nilai tukar. Dengan dukungan tersebut, keyakinan investor untuk menempatkan dana asing di Indonesia diharapkan meningkat. Kombinasi intervensi pasar dan upaya menarik modal masuk menunjukkan bahwa stabilitas rupiah dijaga melalui respons terhadap tekanan sekaligus penguatan kepercayaan investor. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global tanpa mengabaikan perkembangan pasar domestik.

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate meskipun bank sentral Amerika Serikat menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin pada September 2026. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa respons terhadap kebijakan moneter global tidak selalu harus dilakukan melalui kenaikan suku bunga acuan secara langsung. Bank Indonesia mempertimbangkan kondisi perekonomian domestik, arah pergerakan inflasi, stabilitas pasar keuangan, serta dampak kebijakan terhadap pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Destry menjelaskan bahwa Bank Indonesia telah melakukan antisipasi sejak bulan sebelumnya dengan menggunakan pendekatan looking forward. Artinya, otoritas moneter tidak hanya merespons perubahan yang telah terjadi, tetapi juga memperhitungkan kemungkinan perkembangan ekonomi dan pasar keuangan ke depan. Antisipasi tersebut memungkinkan Bank Indonesia menyiapkan langkah yang diperlukan untuk meredam tekanan terhadap rupiah tanpa harus segera mengubah tingkat suku bunga acuan. Pendekatan ini juga memberi ruang bagi kebijakan moneter untuk tetap mendukung aktivitas ekonomi, terutama ketika tekanan eksternal belum secara langsung mengganggu stabilitas domestik.

Menurut penjelasan Destry, keputusan itu disampaikan dalam dialog Power Lunch bersama Andi Shalini pada Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, ia menekankan bahwa dinamika global perlu dibaca secara menyeluruh. Kenaikan suku bunga The Fed dapat memengaruhi arus modal, imbal hasil aset keuangan, dan nilai tukar, sementara perubahan harga minyak mentah dunia dapat berdampak pada inflasi serta neraca perdagangan. Karena itu, kebijakan Bank Indonesia tidak hanya bertumpu pada BI Rate, melainkan menggunakan bauran kebijakan, termasuk pengelolaan likuiditas, stabilisasi pasar valuta asing, dan penguatan komunikasi kebijakan. Melalui kombinasi tersebut, Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.