Harga Perak Antam Turun Rp100 Saat Harga Global Menguat

oleh -304 Dilihat
oleh
Harga Perak Antam Turun Rp100 Saat Harga Global Menguat

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tercatat melemah pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. Berdasarkan informasi yang ditampilkan melalui laman resmi logammulia.com, harga perak Antam turun Rp100 dibandingkan perdagangan sebelumnya. Harga yang semula berada di level Rp40.000 kini menjadi Rp39.900.

Pergerakan tersebut berlangsung ketika harga perak dunia justru menguat. Dengan demikian, harga perak Antam bergerak berlawanan arah dengan perkembangan harga perak di pasar global pada hari yang sama. Perbedaan arah ini juga terlihat jika dibandingkan dengan pergerakan emas Antam, sehingga penurunan harga perak domestik menjadi perhatian dalam perdagangan logam mulia.

Penurunan sebesar Rp100 menempatkan harga perak Antam pada level Rp39.900 per perdagangan 9 Oktober 2026. Perubahan ini menunjukkan adanya penyesuaian harga pada produk perak Antam, meskipun harga perak global mencatat penguatan. Data tersebut menjadi acuan bagi masyarakat yang memantau perkembangan harga logam mulia, khususnya perak, melalui saluran resmi perusahaan.

Informasi harga dapat berubah mengikuti pembaruan perdagangan dan ketentuan yang berlaku pada laman resmi Antam. Karena itu, calon pembeli maupun pemilik perak perlu memeriksa harga terbaru sebelum melakukan transaksi. Untuk perdagangan kali ini, angka yang tercatat adalah Rp39.900, turun Rp100 dari posisi sebelumnya sebesar Rp40.000.

Antam menyediakan beberapa pilihan produk perak yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembeli, baik untuk koleksi, investasi, maupun penggunaan bahan baku. Berdasarkan informasi yang tersedia, produk tersebut mencakup perak batangan dalam dua pilihan ukuran serta perak butiran murni. Setiap bentuk memiliki karakteristik berbeda, sehingga calon pembeli perlu memperhatikan jenis produk, berat, kadar kemurnian, dan harga sebelum melakukan transaksi.

Perak batangan tersedia dalam ukuran 250 gram dengan harga Rp10.500.000. Ukuran ini dapat menjadi pilihan bagi pembeli yang menginginkan kepemilikan perak fisik dalam jumlah relatif lebih kecil dibandingkan pilihan lainnya. Informasi berat dan harga tersebut merujuk pada satu produk batangan berukuran 250 gram, bukan harga per gram. Dengan demikian, nilai Rp10.500.000 perlu dicatat sebagai harga keseluruhan untuk satu batang perak seberat 250 gram.

Pilihan berikutnya adalah perak batangan berukuran 500 gram yang ditawarkan dengan harga Rp20.075.000. Produk ini memiliki berat dua kali lipat dibandingkan batangan 250 gram, tetapi harga keseluruhannya harus dibedakan secara jelas dari ukuran yang lebih kecil. Nilai Rp20.075.000 merupakan harga untuk satu batangan seberat 500 gram, bukan tarif satu gram perak. Perbedaan ukuran dan nominal tersebut penting diperhatikan agar perbandingan produk tidak menimbulkan kekeliruan.

Selain perak batangan, Antam juga menawarkan perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen. Produk berbentuk butiran ini berbeda dari perak batangan karena berupa material kecil yang dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu, termasuk keperluan pengolahan atau manufaktur. Informasi yang dirujuk menyebutkan kadar kemurniannya, tetapi tidak mencantumkan harga khusus untuk perak butiran tersebut. Karena itu, harga perak butiran tidak dapat disamakan dengan harga batangan 250 gram atau 500 gram. Pembeli sebaiknya memeriksa ketersediaan, ketentuan penjualan, dan harga terbaru langsung melalui sumber resmi Antam sebelum membeli.

Pergerakan harga perak dunia menjadi salah satu perhatian investor karena berlangsung ketika pasar komoditas menghadapi sejumlah ketidakpastian. Mengacu pada Trading Economics, harga perak naik 1,59 persen menjadi US$60,11 per ons dan tetap bertahan di atas level US$59 per ons pada Jumat dalam pekan tersebut. Kenaikan harian ini menunjukkan adanya penguatan jangka pendek, tetapi belum sepenuhnya mengubah arah pasar. Secara mingguan, harga perak dunia masih berada dalam jalur penurunan, sehingga pelaku pasar cenderung menilai penguatan tersebut secara hati-hati.

Investor juga mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi arus perdagangan dan sentimen terhadap aset komoditas. Berdasarkan informasi yang disebut sumber, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington sedang melakukan diskusi produktif dengan Iran dan tidak akan menyerang negara tersebut sebelum pemilihan paruh waktu. Pernyataan itu muncul ketika serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan meningkat. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi distribusi energi global, sehingga setiap gangguan dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dan mendorong perubahan cepat pada harga komoditas.

Selain faktor geopolitik, kondisi pasar minyak turut membentuk dinamika perdagangan. Badai yang mengganggu produksi minyak lepas pantai Amerika Serikat di Teluk Meksiko menambah perhatian terhadap potensi gangguan pasokan. Namun, pengaruhnya terhadap pasar terlihat melandai seiring investor menimbang durasi gangguan, kapasitas pemulihan produksi, dan keseimbangan permintaan global. Perkembangan harga minyak tetap relevan bagi perak karena perubahan biaya energi dan ekspektasi inflasi dapat memengaruhi minat terhadap logam mulia. Pada saat yang sama, prospek kebijakan moneter Federal Reserve terus menjadi pertimbangan utama. Ekspektasi terhadap arah suku bunga dan kebijakan bank sentral dapat memengaruhi nilai dolar AS serta imbal hasil obligasi, dua faktor yang kerap menentukan daya tarik perak di pasar internasional.

Pergerakan harga perak dan logam mulia secara umum masih dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar memperkirakan peluang sekitar 82 persen bagi The Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga pada bulan ini. Namun, kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan berada di kisaran 81 persen. Perbedaan ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa investor masih mencermati data inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta pernyataan para pejabat bank sentral.

Alberto Musalem, Presiden The Fed wilayah St. Louis, memberikan sinyal bahwa suku bunga mungkin perlu dinaikkan dalam enam hingga sembilan bulan ke depan. Langkah tersebut dinilai diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke sasaran 2 persen. Pandangan ini memperkuat perhatian pasar terhadap potensi pengetatan moneter lanjutan, meskipun waktu dan kecepatannya masih terbuka terhadap perubahan berdasarkan perkembangan ekonomi.

Di pasar emas, harga emas spot pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, atau Jumat pagi waktu Jakarta, naik 0,3 persen menjadi US$4.123,42 per ons. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember ditutup menguat 0,4 persen menjadi US$4.157. Kenaikan tersebut terjadi setelah emas sebelumnya menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Investor juga menimbang arah suku bunga, tingginya utang Amerika Serikat, serta risiko geopolitik di Selat Hormuz. Nitesh Shah dari WisdomTree menyatakan bahwa meskipun imbal hasil yang tinggi biasanya menekan emas, logam mulia tersebut tetap memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai. Christopher Waller menilai kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan, dengan fleksibilitas dalam menentukan lajunya.

Suku bunga tinggi tetap mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sebesar 17 persen, sedangkan peluang kenaikan pada Desember mencapai 81 persen. Perubahan ekspektasi tersebut dapat terus memengaruhi harga emas, perak, dan logam mulia lainnya.