Bioetanol Kadar Tinggi Didorong, Pengujian Efisiensi dan Kesiapan Bahan Baku Jadi Sorotan

oleh -844 Dilihat
oleh
Bioetanol Kadar Tinggi Didorong, Pengujian Efisiensi dan Kesiapan Bahan Baku Jadi Sorotan

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Guru besar Universitas Pertamina, Iman Kartolaksono Reksowardojo, mendorong percepatan penerapan bahan bakar bioetanol dengan kandungan etanol tinggi di Indonesia. Menurutnya, pengembangan dan penggunaan bahan bakar tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi energi nasional, terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. Ketergantungan itu tidak hanya membebani neraca perdagangan, tetapi juga membuat ketahanan energi domestik rentan terhadap perubahan harga minyak dan kondisi pasar global.

Meski demikian, percepatan implementasi bioetanol tidak dapat dilakukan hanya dengan menetapkan target pencampuran atau memperluas distribusi produk. Kesiapan bahan baku harus menjadi pertimbangan utama, termasuk ketersediaan komoditas, kesinambungan pasokan, kualitas hasil produksi, serta kemampuan industri pengolahan untuk memenuhi kebutuhan dalam skala besar. Pemerintah dan pelaku usaha juga perlu memastikan agar pengembangan bahan baku tidak mengganggu kebutuhan pangan maupun menciptakan tekanan baru terhadap lingkungan.

Iman menekankan, pembuktian kinerja melalui pengujian yang memadai merupakan tahapan penting sebelum bahan bakar berkandungan etanol tinggi diterapkan secara lebih luas. Pengujian perlu menilai efisiensi, kesesuaian dengan teknologi kendaraan, emisi, ketahanan mesin, serta dampaknya terhadap sistem distribusi dan penyimpanan. Hasil yang terukur dapat menjadi dasar bagi penyusunan standar, kebijakan insentif, dan penerimaan masyarakat.

Ia juga menyatakan bahwa bioetanol berbahan komoditas dalam negeri berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas setelah diterapkan secara konsisten. Pemanfaatan produksi lokal dapat menyerap tenaga kerja dari sektor pertanian hingga industri pengolahan, sekaligus menggerakkan perekonomian daerah penghasil bahan baku. Dengan perencanaan yang matang, pengembangan ini dapat memperkuat rantai nilai domestik, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mengurangi kebutuhan impor bensin secara bertahap tanpa mengabaikan aspek teknis serta keberlanjutan.

Pengembangan bioetanol kadar tinggi menghadapi persoalan penting pada sisi pasokan bahan baku. Iman menyebut ketersediaan bahan baku sebagai salah satu kendala yang perlu mendapat perhatian, karena produksi bahan bakar ramah lingkungan tidak cukup hanya didukung oleh kebijakan pencampuran. Kebijakan tersebut memang dapat mendorong pemanfaatan bioetanol, tetapi pelaksanaannya tetap bergantung pada kemampuan menyediakan bahan baku secara berkelanjutan dari dalam negeri.

Sejumlah komoditas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bioetanol, lain tebu, singkong, dan jagung. Ketiganya memiliki potensi sebagai sumber bahan baku, namun ketersediaannya masih terbatas. Kondisi ini menjadi tantangan ketika kebutuhan bioetanol meningkat seiring dorongan untuk menggunakan campuran bahan bakar dengan kadar yang lebih tinggi. Tanpa pasokan yang memadai, pengembangan bioetanol berisiko menghadapi hambatan meskipun arah kebijakan dan minat terhadap bahan bakar yang lebih ramah lingkungan terus menguat.

Keterbatasan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan bahan baku perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembahasan bioetanol. Tebu, singkong, dan jagung bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan unsur yang menentukan kemampuan industri dalam memenuhi kebutuhan produksi. Karena ketersediaannya belum mencukupi, pengembangan bioetanol perlu mempertimbangkan hubungan kebutuhan energi, kapasitas penyediaan komoditas, dan keberlanjutan pasokan di dalam negeri.

Dengan demikian, keberhasilan penerapan bioetanol kadar tinggi tidak hanya ditentukan oleh keputusan mengenai tingkat pencampuran atau pengujian efisiensi kendaraan. Aspek bahan baku memiliki peran yang sama penting karena menjadi dasar bagi keberlangsungan produksi. Keterbatasan tebu, singkong, dan jagung memperlihatkan bahwa agenda bahan bakar ramah lingkungan harus disertai perhatian terhadap kemampuan domestik dalam menyediakan sumber bioetanol. Tanpa kesiapan tersebut, kebijakan pencampuran akan sulit berkembang secara konsisten.

Pengujian menyeluruh terhadap bioetanol dan bensin komersial yang saat ini beredar dinilai penting sebelum penggunaan bioetanol berkadar tinggi diperluas. Pengujian tersebut tidak cukup hanya dilakukan melalui pengamatan terhadap performa mesin, tetapi perlu mencakup sejumlah parameter yang dapat memberikan gambaran objektif mengenai kinerja kedua jenis bahan bakar.

Iman menyerukan agar bioetanol dan bensin yang tersedia di pasar dibandingkan melalui prosedur pengujian yang terukur dan transparan. Tujuan utamanya adalah mengetahui bahan bakar mana yang lebih efisien dalam pemakaian, sekaligus melihat tingkat emisi yang dihasilkan selama kendaraan beroperasi. Perbandingan itu diperlukan agar kebijakan pengembangan bioetanol tidak hanya didasarkan pada potensi bahan baku atau asumsi mengenai manfaat lingkungan, melainkan juga pada bukti teknis.

Evaluasi semacam itu juga dibutuhkan untuk mengidentifikasi faktor yang dapat memengaruhi hasil, seperti karakteristik kendaraan, spesifikasi mesin, kondisi operasional, dan kualitas bahan bakar. Seluruh aspek tersebut perlu dikendalikan agar perbandingan tidak menghasilkan kesimpulan yang bias. Data mengenai efisiensi dan emisi kemudian dapat digunakan untuk menentukan kesiapan penerapan bioetanol berkadar tinggi.

Sebelum hasil pengujian tersedia, belum dapat dipastikan bahan bakar mana yang memberikan efisiensi lebih baik dalam penggunaan aktual. Karena itu, perluasan penerapan bioetanol sebaiknya berjalan berdasarkan hasil uji yang komprehensif, bukan sekadar target peningkatan kadar campuran. Pendekatan ini dapat membantu memastikan bahwa keputusan yang diambil mempertimbangkan kinerja kendaraan, dampak emisi, dan kepentingan pengguna secara bersamaan.

Dorongan percepatan bioetanol menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Penggunaan bahan bakar nabati diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bensin impor, sekaligus membangun industri domestik yang memanfaatkan sumber daya pertanian. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menargetkan penerapan campuran bioetanol 10 persen atau E10 pada 2027. Setelah tahap tersebut berjalan dan kesiapan industri semakin kuat, pemerintah menyiapkan peningkatan campuran menjadi E20 pada rentang 2028 hingga 2029.

Arah pengembangan jangka panjang bahkan mencakup campuran hingga E50. Bahan baku yang dipertimbangkan meliputi tebu, singkong, dan jagung, sehingga pelaksanaannya perlu didukung oleh pasokan pertanian yang berkelanjutan, teknologi pengolahan, serta pengujian efisiensi kendaraan dan bahan bakar. Saat ini, Pertamina telah memasarkan Pertamax Green dengan kandungan bioetanol 5 persen atau E5. Pemerintah ingin memperluas penerapan E10 terlebih dahulu untuk menekan impor bensin dan mematangkan rantai industri sebelum beralih ke E20.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa pengembangan tersebut akan menggunakan skema kolaborasi yang melibatkan BUMN, perusahaan swasta, dan masyarakat. Pemerintah berperan menjamin ketersediaan serta kepastian lahan, termasuk legalitas kawasan, agar investasi dan kegiatan produksi dapat berlangsung dengan jelas. Masyarakat juga didorong masuk ke dalam ekosistem usaha, baik melalui budidaya komoditas maupun keterlibatan dalam rantai pasok dan pengolahan.

Keterangan itu disampaikan setelah rapat program khusus pengembangan bioetanol bersama 44 bupati di Jakarta pada Senin, 21 September. Program tersebut disebut sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto. Amran menyampaikan bahwa tiga komoditas strategis itu membutuhkan lahan sekitar 1 hingga 2 juta hektare. Pemerintah juga merencanakan pembangunan pabrik serta penggerakan program secara masif di seluruh Indonesia, dengan tetap menyesuaikan kesiapan wilayah, kepastian bahan baku, dan kemampuan industri.