JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak generasi muda untuk mengambil peran lebih aktif sebagai duta literasi keuangan Indonesia. Ajakan tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono. Menurutnya, anak muda memiliki posisi strategis dalam menyebarkan pemahaman mengenai layanan keuangan karena mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat cepat.
Peran sebagai duta literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan masyarakat yang lebih cermat dalam mengambil keputusan finansial. Generasi muda diharapkan mampu membantu keluarga, teman, dan komunitas mengenali ciri-ciri penipuan digital, termasuk tawaran investasi ilegal, pinjaman daring tidak berizin, serta berbagai modus pencurian data pribadi. Edukasi yang disampaikan secara sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari dinilai dapat meningkatkan kewaspadaan publik.
Selain melindungi masyarakat dari risiko kejahatan digital, keterlibatan generasi muda juga diarahkan untuk mendorong pengelolaan keuangan yang lebih bijak. Pengetahuan tentang penyusunan anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, menggunakan layanan keuangan secara bertanggung jawab, serta menyiapkan dana darurat menjadi bagian penting dari kecakapan tersebut. Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat dapat memanfaatkan produk dan layanan keuangan secara aman, sesuai kebutuhan, dan tidak mudah terpengaruh oleh janji keuntungan yang tidak realistis.
Dicky menyampaikan harapannya agar generasi muda dapat menjadi duta literasi keuangan Indonesia. Harapan itu mencerminkan pentingnya kolaborasi OJK dan kaum muda dalam memperluas jangkauan edukasi keuangan. Melalui komunikasi yang kreatif, penggunaan media digital secara positif, dan keteladanan dalam mengatur keuangan, generasi muda dapat berkontribusi membangun masyarakat yang lebih waspada, cerdas, dan bertanggung jawab dalam menghadapi ekosistem keuangan digital.
Ajakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar generasi muda berperan sebagai duta literasi keuangan digital disampaikan dalam acara Financial Healing 2026. Pesan tersebut menempatkan anak muda sebagai bagian penting dalam memperluas pemahaman mengenai penggunaan layanan keuangan digital secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab. Peran itu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dengan kesadaran untuk memahami risiko serta mengambil keputusan keuangan secara bijaksana.
Financial Healing 2026 mengangkat tema kecerdasan literasi keuangan digital, keamanan bertransaksi, dan kebijaksanaan dalam berinvestasi. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam membentuk perilaku keuangan yang sehat di tengah meningkatnya pemanfaatan platform digital. Pengetahuan yang memadai dapat membantu masyarakat mengenali karakteristik layanan keuangan, menjaga data pribadi, serta mempertimbangkan risiko sebelum melakukan transaksi atau menempatkan dana pada instrumen investasi.
Melalui tema tersebut, penyampaian OJK menekankan bahwa generasi muda perlu memiliki kecakapan untuk menggunakan ekosistem keuangan digital dengan penuh pertimbangan. Sebagai duta literasi, mereka diharapkan dapat menjadi penggerak pemahaman yang mendorong sikap lebih kritis terhadap berbagai penawaran keuangan. Kecakapan ini mencakup kebiasaan memeriksa informasi, memastikan keamanan layanan, dan menyesuaikan keputusan investasi dengan tujuan serta kemampuan masing-masing.
Acara Financial Healing 2026 berlangsung di Jakarta pada Sabtu, 3 Oktober, dan menjadi bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026. Penyelenggaraan dalam rangkaian tersebut memberikan konteks bagi pesan OJK mengenai pentingnya memperkuat literasi keuangan digital. Dengan demikian, ajakan kepada generasi muda disampaikan sebagai dorongan untuk membangun pemahaman yang lebih luas tentang keamanan bertransaksi dan kebijaksanaan dalam berinvestasi, sekaligus mendukung penggunaan layanan keuangan yang lebih bertanggung jawab.
Kedekatan generasi muda dengan teknologi digital menempatkan mereka pada posisi strategis dalam memperkuat literasi keuangan di masyarakat. Menurut pandangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), anak muda tidak seharusnya hanya dipandang sebagai pengguna berbagai layanan keuangan digital. Mereka juga dapat menjadi penggerak pemahaman keuangan bagi keluarga, teman, dan masyarakat di lingkungan sekitar. Pengalaman menggunakan dompet digital, mobile banking, pembayaran berbasis kode QR, serta layanan keuangan lainnya dapat menjadi bekal untuk menjelaskan manfaat, risiko, dan cara penggunaan produk secara bijak.
Peran tersebut semakin penting karena transaksi digital kini semakin mudah, cepat, dan luas. Kemudahan ini membantu masyarakat melakukan pembayaran, transfer dana, maupun mengakses layanan keuangan tanpa batasan tempat dan waktu. Namun, perkembangan itu juga diikuti beragam modus penipuan yang memanfaatkan ketidaktahuan pengguna. Generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi dapat membantu mengenali tanda-tanda mencurigakan, mengingatkan orang terdekat agar tidak terburu-buru mengambil keputusan, serta mendorong kebiasaan memeriksa informasi melalui saluran resmi.
Beberapa modus yang perlu diwaspadai lain pesan yang meminta penerima mengunduh aplikasi atau file APK dari sumber tidak dikenal. Berkas tersebut dapat membahayakan keamanan perangkat dan data pribadi. Ada pula kabar palsu mengenai anggota keluarga yang membutuhkan bantuan, biasanya disertai desakan untuk segera mengirim uang. Modus lain berkaitan dengan transaksi pinjaman daring ilegal, seperti tawaran dana cepat dengan persyaratan tidak jelas atau biaya yang disembunyikan. Dengan membagikan informasi yang benar, mengajak masyarakat memeriksa legalitas penyedia jasa, dan menekankan perlindungan data pribadi, generasi muda dapat berkontribusi sebagai duta literasi keuangan digital yang bertanggung jawab.
Dicky mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengeklik tautan, mengunduh aplikasi, atau mengikuti instruksi yang tercantum dalam pesan digital. Setiap pesan perlu diperiksa terlebih dahulu, baik dari sisi kebenaran informasinya maupun sumber yang mengirimkannya. Sikap tergesa-gesa dapat dimanfaatkan pelaku penipuan untuk memperoleh data pribadi, mengambil alih akun, atau mengarahkan korban ke layanan yang merugikan. Karena itu, penerima pesan sebaiknya melakukan verifikasi melalui kanal resmi dan tidak mudah percaya pada informasi yang mendesak, menawarkan keuntungan besar, atau meminta tindakan segera.
Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah file APK yang dikirim melalui pesan atau tautan tidak dikenal. Berdasarkan keterangannya, sistem pada file tersebut dapat menarik data dari telepon seluler. Data yang diambil kemudian berpotensi digunakan untuk berbagai tindakan tanpa sepengetahuan pemilik perangkat. Pengguna disarankan tidak memasang aplikasi dari sumber yang tidak resmi, sekalipun nama, tampilan, atau pesan pengantarnya terlihat meyakinkan. Pemeriksaan terhadap izin aplikasi dan reputasi sumber menjadi langkah penting sebelum melakukan pengunduhan.
Dicky juga menyampaikan contoh uang yang tiba-tiba masuk ke rekening seseorang, padahal pemilik rekening tidak mengetahui siapa pengirimnya. Setelah ditelusuri, dana tersebut ternyata berkaitan dengan pinjaman daring ilegal. Situasi semacam ini menunjukkan bahwa transaksi yang tampak menguntungkan atau tidak biasa tetap harus diperiksa dengan cermat. Masyarakat tidak seharusnya langsung menggunakan atau mengembalikan dana berdasarkan instruksi pihak yang belum terverifikasi, melainkan mencari informasi melalui lembaga dan kanal resmi.
Besarnya dampak modus penipuan digital tercermin dari kerugian akibat penipuan atau scam yang mencapai sekitar Rp12 triliun dalam dua tahun. Angka tersebut menegaskan pentingnya kewaspadaan, pemeriksaan informasi, serta kebiasaan menjaga keamanan data dalam setiap aktivitas digital.

