Tiga Bulan Tanpa Aliran Air, Warga Sambau Blokade Pintu Masuk Nongsa Digital Park

oleh -844 Dilihat
oleh
Tiga Bulan Tanpa Aliran Air, Warga Sambau Blokade Pintu Masuk Nongsa Digital Park

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Terhentinya aliran air di permukiman warga selama tiga bulan memicu aksi ratusan warga Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, pada Senin, 5 Oktober 2026. Warga memblokade pintu masuk kawasan data center Nongsa Digital Park sebagai bentuk protes terhadap krisis air bersih yang belum juga teratasi. Aksi tersebut membuat akses utama menuju kawasan terganggu dan menjadi perhatian pengguna jalan maupun pekerja di sekitar lokasi.

Dalam demonstrasi itu, warga membawa berbagai peralatan dapur, galon, dan ember. Perlengkapan tersebut tidak sekadar menjadi atribut aksi, tetapi juga menggambarkan kesulitan yang mereka hadapi setiap hari untuk memperoleh air bagi kebutuhan rumah tangga. Selama aliran berhenti, warga harus mencari air dari sumber lain, membeli air, atau menunggu pasokan yang datang secara tidak menentu. Kondisi itu dinilai semakin membebani keluarga, terutama mereka yang memiliki anak kecil, lansia, dan anggota keluarga dengan kebutuhan khusus.

Warga menegaskan bahwa persoalan tersebut telah berlangsung terlalu lama tanpa penyelesaian yang jelas. Mereka meminta pengelola Nongsa Digital Park dan pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan aliran air serta memastikan pasokan berjalan secara teratur. Selain penyelesaian darurat, warga juga menuntut adanya penjelasan terbuka mengenai penyebab terhentinya distribusi dan jadwal perbaikan. Blokade dilakukan agar keluhan mereka tidak kembali diabaikan dan agar pihak terkait segera hadir berdialog. Warga menyatakan akses akan dipertimbangkan untuk dibuka setelah ada komitmen nyata serta kepastian penanganan krisis air di kawasan permukiman Sambau.

Dewi Susanti, warga Sambau, mengatakan warga turun ke lokasi karena sudah tidak mampu bertahan menghadapi kondisi air yang terhenti. Menurut dia, aliran air di permukiman tersebut mati total selama lebih dari tiga bulan. Dalam kurun waktu itu, air tidak mengalir setetes pun ke rumah-rumah warga, sehingga kebutuhan sehari-hari menjadi semakin sulit dipenuhi. Warga harus mencari sumber air lain untuk keperluan minum, memasak, mandi, dan mencuci.

Dewi menegaskan, tuntutan warga tidak berlebihan. Mereka hanya meminta agar aliran air dipulihkan dan kembali normal seperti sebelumnya. Warga juga menyatakan bersedia meninggalkan lokasi apabila air sudah kembali mengalir ke permukiman. Sikap tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa aksi dilakukan bukan untuk mengganggu kegiatan di kawasan sekitar, melainkan untuk menyampaikan keluhan atas kebutuhan dasar yang belum terpenuhi selama berbulan-bulan.

Warga menduga terhentinya aliran air berkaitan dengan perkembangan pembangunan di sekitar permukiman Sambau. Salah satu kawasan yang disebut dalam dugaan tersebut adalah area data center yang terus berkembang di sekitar wilayah itu. Namun, Dewi menekankan bahwa warga tidak mengetahui penyebab teknis yang membuat aliran air berhenti. Mereka hanya melihat adanya perubahan kondisi setelah pembangunan di kawasan sekitar semakin berkembang dan berharap pihak terkait segera memberikan penjelasan yang jelas.

Dalam keterangan warga, kawasan data center disebut telah mengalami perkembangan selama sekitar satu tahun lebih. Sementara itu, air di permukiman Sambau baru mati total dalam kurang lebih tiga bulan terakhir. Perbedaan waktu tersebut menjadi salah satu alasan warga meminta pemeriksaan menyeluruh terhadap jaringan dan sumber pasokan air. Warga berharap persoalan dapat segera ditangani melalui koordinasi pengelola layanan air, pemerintah, serta pihak-pihak yang menjalankan pembangunan di sekitar permukiman.

Terhentinya aliran air selama sekitar tiga bulan membuat warga Sambau harus mengandalkan pasokan dari mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, jumlah air yang didistribusikan dinilai tidak sebanding dengan jumlah warga yang membutuhkan. Satu mobil tangki harus melayani banyak rumah, sehingga tidak semua keluarga memperoleh pasokan dalam jumlah memadai. Kondisi tersebut membuat aktivitas memasak, mencuci, mandi, dan kebutuhan sanitasi lainnya menjadi semakin sulit dilakukan.

Dewi menuturkan, warga kerap menunggu kedatangan mobil tangki sejak pagi hingga malam, bahkan sampai dini hari. Penantian panjang itu pun tidak selalu berakhir dengan diperolehnya air. Sebagian warga terpaksa kembali ke rumah dengan tangan kosong karena persediaan telah habis sebelum giliran mereka. Situasi ini membuat warga harus mengatur ulang kegiatan harian dan terus memantau informasi mengenai jadwal distribusi air.

Selain persoalan jumlah, kualitas air tangki juga menjadi keluhan. Air yang diterima warga terkadang tampak keruh dan disebut berbau minyak, cat, atau lumpur. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena air dinilai tidak layak digunakan untuk konsumsi. Warga harus mencari sumber air lain atau mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air yang dianggap lebih bersih, meskipun kemampuan ekonomi setiap keluarga berbeda.

Kebutuhan satu rumah tangga disebut dapat mencapai sekitar 1.000 liter per hari, sedangkan warga sering kali hanya memperoleh satu drum karena pasokan harus dibagi dengan keluarga lain. Kesenjangan kebutuhan dan ketersediaan itu memicu ketegangan sosial. Ketika banyak warga membutuhkan air pada waktu yang sama, sementara jumlahnya terbatas, antrean mudah menimbulkan perdebatan dan perselisihan. Keterbatasan pasokan akhirnya bukan hanya mengganggu kebutuhan dasar, tetapi juga memengaruhi hubungan antarwarga di tengah kondisi krisis air yang berkepanjangan.

Ketua RT 02 RW 03 Bakau Serip, Nongsa, Andi Lala, mengatakan persoalan air bersih di wilayahnya bukan masalah baru. Warga telah merasakan gangguan pasokan selama beberapa tahun, tetapi kondisinya memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Dalam sekitar tiga bulan terakhir, aliran air bahkan disebut mati total dan membuat kebutuhan sehari-hari rumah tangga semakin sulit dipenuhi.

Andi memperkirakan sekitar 70 hingga 75 rumah di wilayahnya terdampak langsung. Warga harus mencari sumber air alternatif untuk minum, memasak, mencuci, dan keperluan lainnya. Situasi tersebut juga menambah beban waktu karena sebagian warga perlu membeli atau menunggu distribusi air tangki, sementara aktivitas rumah tangga tetap harus berjalan.

Menurut Andi, warga sebenarnya tidak menuntut aliran air tersedia sepanjang hari. Ia telah meminta agar pasokan dibuka secara terbatas, misalnya selama tiga jam pada pagi hari mulai pukul 09.00 dan dua jam pada malam hari. Dengan jadwal sederhana itu, warga setidaknya dapat menampung air untuk kebutuhan dasar. Namun, permintaan tersebut belum memperoleh respons seperti yang diharapkan.

Krisis ini turut meningkatkan pengeluaran rumah tangga. Warga melakukan patungan dan membeli air secara mandiri, meskipun pasokan dari jaringan tidak tersedia. Pembayaran yang sebelumnya sekitar Rp60 ribu per bulan meningkat menjadi Rp80 ribu, kemudian Rp180 ribu, bahkan mencapai Rp200 ribu. Beban itu tetap harus ditanggung warga tanpa jaminan air mengalir. Untuk menjaga distribusi tetap berjalan, Andi pernah menggunakan uang pribadi guna membayar lembur sopir mobil tangki. Langkah tersebut dilakukan karena masih banyak warga yang terdampak dan membutuhkan air, sementara bantuan maupun pasokan rutin belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh rumah tangga.