Taman Dharmawangsa Ditata dengan Sistem Resapan untuk Menekan Genangan

oleh
Taman Dharmawangsa Ditata dengan Sistem Resapan untuk Menekan Genangan

Jakarta | Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menata ruang terbuka hijau sebagai bagian dari upaya mengantisipasi genangan pada musim hujan. Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian ialah revitalisasi Taman Dharmawangsa, di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Penataan taman ini diarahkan agar ruang hijau tersebut memiliki sistem resapan, sejalan dengan kebutuhan untuk mengelola air di lingkungan perkotaan. Revitalisasi juga menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi taman sebagai ruang terbuka yang dapat digunakan masyarakat. Pekerjaan di Taman Dharmawangsa masih berlangsung pada 2 November 2026, sehingga proses penataan belum dapat disebut selesai. Informasi mengenai perkembangan tersebut penting agar publik memahami status kegiatan dan tujuan umum yang mendasarinya.

Dalam konteks antisipasi genangan, keberadaan sistem resapan menjadi unsur yang disorot dalam penataan taman. Ruang terbuka hijau dapat dirancang dengan memperhatikan bagaimana air dapat meresap ke dalam tanah, alih-alih hanya mengalir di permukaan. Pada Taman Dharmawangsa, penerapan pendekatan resapan menjadi bagian dari revitalisasi yang sedang dikerjakan. Namun, selama pekerjaan masih berjalan, rincian teknis maupun hasil akhir penataan belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia. Karena itu, pembahasan mengenai proyek ini sebaiknya berfokus pada arah kebijakannya: mengintegrasikan fungsi ruang hijau dengan upaya mengantisipasi genangan, tanpa menyimpulkan kapasitas atau hasil yang belum diumumkan.

Penataan Taman Dharmawangsa juga menggambarkan peran taman kota dalam agenda pengelolaan lingkungan di DKI Jakarta. Revitalisasi ruang terbuka hijau tidak hanya berkaitan dengan pembaruan tampilan, tetapi dapat mencakup pengaturan fungsi ruang agar mendukung kebutuhan lingkungan. Dalam proyek ini, sistem resapan menjadi perhatian yang terkait dengan antisipasi genangan saat musim hujan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih melaksanakan pekerjaan tersebut pada 2 November 2026 di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Perkembangan berikutnya akan menentukan bentuk akhir taman dan bagaimana sistem resapan diterapkan. Sampai ada keterangan lebih lanjut, yang dapat ditegaskan ialah bahwa penataan masih berlangsung dan menjadi salah satu langkah pemerintah dalam mengelola ruang hijau kota untuk menghadapi musim hujan.

Penataan Taman Dharmawangsa oleh Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Jakarta Selatan mengedepankan infrastruktur hijau melalui pembangunan bioswale dan rain garden. Pendekatan ini menempatkan ruang terbuka hijau bukan hanya sebagai tempat beraktivitas dan memperindah kawasan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mengelola air hujan. Dengan menghadirkan elemen tersebut di lingkungan taman, penataan diarahkan untuk mendukung pengurangan genangan sekaligus menjaga fungsi ruang publik.

Bioswale memiliki peran membantu menyerap dan mengelola limpasan air hujan. Fungsi ini penting ketika air hujan mengalir di permukaan kawasan dan berpotensi menimbulkan genangan. Dalam kondisi hujan berintensitas tinggi, kemampuan bioswale untuk membantu menangani limpasan dapat mendukung pengurangan risiko genangan di sekitar taman. Kehadiran bioswale karena itu menjadi salah satu unsur yang mendukung ketahanan kawasan terhadap curah hujan, tanpa mengubah taman menjadi ruang yang kehilangan fungsi rekreasinya.

Rain garden melengkapi konsep infrastruktur hijau yang diterapkan dalam penataan tersebut. Bersama bioswale, elemen ini memperlihatkan upaya mengintegrasikan pengelolaan air hujan ke dalam lingkungan taman. Keduanya menjadi bagian dari pendekatan yang memanfaatkan ruang hijau untuk merespons limpasan dan mendukung kondisi kawasan yang lebih nyaman. Penataan seperti ini juga memperkuat pemahaman bahwa taman dapat berkontribusi pada kebutuhan lingkungan perkotaan, selain menyediakan ruang bagi warga.

Melalui pembangunan bioswale dan rain garden, Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Jakarta Selatan berupaya menekan potensi genangan di Taman Dharmawangsa. Fokusnya adalah menghadirkan infrastruktur hijau yang membantu penyerapan dan pengelolaan limpasan air hujan, terutama saat hujan lebat. Upaya tersebut menjadi bagian dari penataan taman yang memperhatikan fungsi ekologis dan kenyamanan publik secara bersamaan. Dengan demikian, Taman Dharmawangsa tidak hanya ditata sebagai ruang terbuka, tetapi juga sebagai lingkungan yang mendukung pengelolaan air hujan di kawasan sekitarnya.

Penataan Taman Dharmawangsa diarahkan untuk memperkuat fungsi ekologis sekaligus membuat ruang taman lebih mudah diakses. Upaya mengurangi genangan melalui sistem resapan menjadi bagian penting dari revitalisasi, tetapi perhatian terhadap lingkungan tidak berdiri sendiri. Taman juga perlu dirancang dengan mempertimbangkan cara masyarakat bergerak dan menggunakan ruang yang tersedia. Dengan demikian, pembenahan tidak hanya berfokus pada kondisi fisik kawasan atau kemampuan tanah mengelola air, melainkan turut mencakup aksesibilitas. Kedua perhatian ini berjalan beriringan dalam proses penataan, sehingga fungsi lingkungan dan kebutuhan untuk menjangkau ruang taman sama-sama menjadi pertimbangan. Pendekatan tersebut menempatkan taman sebagai ruang yang ditata dengan perhatian terhadap aspek ekologis dan akses yang lebih inklusif.

Salah satu wujud perhatian terhadap aksesibilitas adalah pemasangan guiding block. Jalur pemandu ini ditujukan bagi penyandang tunanetra, agar mereka memperoleh penanda untuk membantu orientasi saat bergerak di area taman. Keberadaan guiding block menunjukkan bahwa aksesibilitas diperhitungkan sebagai bagian dari revitalisasi, bukan sekadar unsur tambahan yang terpisah dari penataan. Informasi mengenai jalur tersebut juga memperlihatkan adanya perhatian khusus terhadap kebutuhan pengguna dengan hambatan penglihatan. Dalam konteks taman yang ditata kembali, jalur pemandu menjadi elemen yang dapat membantu penyandang tunanetra mengenali arah pergerakan. Penyebutannya penting karena keberhasilan penataan ruang publik tidak hanya berkaitan dengan perubahan lanskap, tetapi juga dengan akses menuju dan di dalam ruang tersebut.

Integrasi sistem resapan dan guiding block menggambarkan dua sisi dari pembenahan Taman Dharmawangsa. Sistem resapan mendukung tujuan menekan genangan, sedangkan jalur pemandu memperhatikan akses bagi penyandang tunanetra. Keduanya memiliki peran berbeda, namun sama-sama menjadi bagian dari rancangan revitalisasi. Pendekatan ini menegaskan bahwa peningkatan fungsi ekologis dapat berjalan bersama perhatian terhadap aksesibilitas masyarakat. Penataan taman tidak cukup dipahami hanya sebagai upaya mengelola air; akses yang diperhatikan juga menjadi unsur penting dalam pembenahan. Dengan mencantumkan guiding block sebagai jalur pemandu bagi penyandang tunanetra, revitalisasi menunjukkan bahwa kebutuhan akses tertentu turut dipertimbangkan. Fokus pada dua hal tersebut menjaga gambaran penataan tetap jelas: taman diperkuat untuk merespons genangan sekaligus ditata dengan memperhatikan aksesibilitas.

Penataan ruang terbuka hijau di Taman Dharmawangsa tercatat sebagai kegiatan dalam tahun anggaran 2026. Nilai kegiatan yang dialokasikan mencapai Rp1.796.415.736, atau sekitar Rp1,79 miliar. Angka tersebut menjadi bagian dari informasi utama mengenai rencana revitalisasi taman ini, selain sasaran waktu penyelesaian yang telah ditetapkan. Penyebutan tahun anggaran dan nilai kegiatan membantu menjelaskan lingkup perencanaan secara administratif, sementara target penyelesaian memberi gambaran mengenai jadwal yang dituju dalam pelaksanaan penataan.

Revitalisasi Taman Dharmawangsa ditargetkan selesai pada awal Desember 2026. Target ini merupakan batas waktu yang direncanakan untuk penyelesaian kegiatan, bukan keterangan bahwa pekerjaan telah mencapai tahapan tertentu. Dengan demikian, informasi mengenai jadwal perlu dipahami sebagai sasaran dalam rencana, tanpa menyimpulkan progres yang belum disampaikan. Kejelasan target waktu juga menempatkan kegiatan ini dalam agenda penataan RTH tahun 2026, yang cakupannya melibatkan lokasi-lokasi lain di Jakarta.

Proyek di Taman Dharmawangsa menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membangun 10 RTH baru dan merevitalisasi 49 RTH hingga akhir 2026. Kedua sasaran tersebut menunjukkan cakupan agenda ruang terbuka hijau yang direncanakan pemerintah daerah pada periode itu. Taman Dharmawangsa termasuk dalam kelompok lokasi yang direvitalisasi, bukan bagian dari target pembangunan RTH baru.

35 kunjungan