Banjir dan Longsor di Lumajang Berdampak pada 1.417 Rumah, Dua Warga Meninggal

oleh
Banjir dan Longsor di Lumajang Berdampak pada 1.417 Rumah, Dua Warga Meninggal

Kabupaten Lumajang | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berdampak pada warga dan permukiman di sejumlah wilayah. Data yang dihimpun menunjukkan sebanyak 1.417 kepala keluarga terdampak. Sebaran dampak tersebut mencakup delapan desa yang berada di tiga kecamatan. Catatan ini menggambarkan luasnya wilayah yang terkena bencana, sekaligus menjadi dasar untuk memahami kebutuhan penanganan bagi masyarakat setempat.

Jumlah rumah yang terdampak tercatat sebanyak 1.417 unit. Angka rumah terdampak dan jumlah kepala keluarga terdampak sama-sama berada pada angka 1.417, sesuai catatan BNPB. Rincian tersebut mencakup keseluruhan cakupan yang dilaporkan, yaitu delapan desa di tiga kecamatan di Kabupaten Lumajang. Dengan demikian, dampak bencana tidak terbatas pada satu titik permukiman, melainkan menjangkau beberapa desa dan kecamatan. Data ini menjadi gambaran awal mengenai skala kerusakan dan gangguan yang dialami warga akibat banjir dan longsor.

Selain berdampak pada rumah dan keluarga, bencana tersebut juga menimbulkan korban jiwa. BNPB mencatat dua warga meninggal dunia. Informasi mengenai korban meninggal ini menjadi bagian penting dari laporan dampak, di samping jumlah keluarga dan rumah yang terdampak. Seluruh angka tersebut merujuk pada laporan tentang kejadian banjir dan longsor di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dengan cakupan delapan desa yang tersebar di tiga kecamatan. Penyebutan jumlah keluarga, unit rumah, wilayah terdampak, serta korban jiwa membantu memperjelas skala peristiwa tanpa mengubah rincian yang telah disampaikan. Berdasarkan catatan tersebut, dampak bencana mencakup aspek kemanusiaan dan permukiman, dengan 1.417 kepala keluarga terdampak, 1.417 rumah terdampak, serta dua warga meninggal dunia. Data itu menunjukkan perlunya perhatian terhadap masyarakat di wilayah terdampak, sekaligus menjadi rujukan dalam penyampaian informasi mengenai konsekuensi bencana di Lumajang.

Longsor yang terjadi di Dusun Jonggrang, Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, pada Sabtu, 31 Oktober 2026, tercatat sebagai kejadian longsor kedua di Kabupaten Lumajang. Peristiwa tersebut berlangsung sekitar pukul 01.00 dini hari, ketika warga masih beristirahat setelah hujan lebat mengguyur wilayah itu pada malam sebelumnya. Hujan dilaporkan turun sejak sekitar pukul 20.00 hingga 23.00 WIB pada 30 Oktober, sebelum material tanah bergerak dan menimbun sebuah rumah.

Longsoran pertama menghantam rumah yang dihuni satu keluarga. Saat kejadian, para penghuni sedang beristirahat di dalam rumah. Setelah longsoran awal, terjadi longsor berikutnya yang menambah bahaya dan membuat upaya penyelamatan harus dilakukan dengan cepat. Kondisi gelap pada dini hari serta timbunan material menjadi tantangan bagi warga yang berupaya menjangkau para korban. Peristiwa ini menunjukkan bahwa hujan deras dalam waktu beberapa jam dapat meningkatkan risiko pergerakan tanah, terutama di kawasan yang rentan terhadap longsor.

Dua orang meninggal dunia dalam kejadian tersebut, yakni Imron, laki-laki berusia 40 tahun, dan putrinya, Hilya, perempuan berusia 9 tahun. Ibu mereka berhasil selamat. Warga setempat melakukan evakuasi korban secara mandiri setelah longsor terjadi. Imron dan Hilya kemudian dimakamkan. Kehilangan dua anggota keluarga dalam satu peristiwa menjadi duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar, terlebih kejadian berlangsung saat mereka tengah berada di rumah untuk beristirahat.

Akibat longsor, satu rumah dilaporkan mengalami kerusakan kategori sedang. BNPB menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban atas meninggalnya Imron dan Hilya. Kejadian ini menjadi bagian dari rangkaian bencana hidrometeorologi yang berdampak di Lumajang, di tengah laporan banjir dan longsor yang juga memengaruhi banyak rumah di kabupaten tersebut. Warga di sekitar lokasi perlu tetap khususnya ketika hujan lebat turun atau berlanjut, serta memperhatikan perubahan kondisi tanah dan lingkungan di sekitar permukiman.

Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (TRC-BPBD) menyebar ke sejumlah lokasi terdampak banjir dan longsor di Lumajang untuk menangani kondisi darurat sekaligus mendata warga. Petugas mengamati situasi di lapangan, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, dan memeriksa rumah yang berpotensi mengalami kerusakan lebih lanjut. Pendataan tersebut membantu pemerintah daerah memperoleh gambaran mengenai dampak bencana serta menentukan bentuk penanganan yang diperlukan. Di tengah situasi yang masih berkembang, keselamatan warga menjadi perhatian utama, terutama di kawasan yang aksesnya terganggu atau berada dekat titik longsor. Petugas juga memantau perubahan kondisi agar risiko lanjutan dapat diketahui dan ditindaklanjuti.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuka akses jalan tembus Taman Sari Ibu Raja yang tertutup material longsor. Penutupan jalan sebelumnya menghambat mobilitas dan menyulitkan hubungan kawasan terdampak dengan wilayah sekitarnya. Pembukaan akses menjadi prioritas agar petugas dapat menjangkau warga, mengirimkan kebutuhan, dan mendukung kelancaran penanganan. TRC-BPBD juga memantau wilayah yang masih terisolasi, termasuk kondisi rumah-rumah yang terancam rusak. Pemantauan dilakukan untuk mengenali bahaya di sekitar permukiman dan menentukan langkah yang sesuai apabila keadaan berubah. Akses yang kembali terbuka diharapkan dapat membantu kegiatan penanganan berjalan lebih efektif.

Penanganan bencana masih berlangsung, dengan fokus pada pembukaan akses, pemantauan kawasan terisolasi, pendataan kebutuhan dasar, serta penyiapan bantuan logistik bagi warga terdampak. Untuk menangani berbagai persoalan vital, TRC-BPBD berkoordinasi dengan camat, kepala desa, petugas PLN, dan unsur terkait lainnya. Koordinasi ini diperlukan agar informasi dari lapangan dapat diteruskan dengan cepat dan kebutuhan yang mendesak mendapat perhatian. Petugas juga berupaya memastikan data warga dan kondisi wilayah terus diperbarui sebagai dasar penyaluran bantuan serta langkah lanjutan. Selama proses berlangsung, masyarakat di lokasi terdampak diimbau mengikuti arahan petugas, terutama ketika kondisi akses maupun lingkungan masih dalam pemantauan.

BNPB mengimbau masyarakat di wilayah terdampak banjir dan longsor di Lumajang untuk tetap terhadap potensi bahaya susulan. Kondisi di sekitar permukiman dan jalur yang terdampak perlu diperhatikan, terutama apabila hujan kembali turun atau situasi berubah. Warga diminta tidak menganggap keadaan aman sebelum mengikuti informasi dan arahan dari petugas yang menangani kondisi di lapangan. Kehati-hatian diperlukan untuk melindungi diri sendiri dan keluarga, sekaligus mengurangi risiko ketika warga beraktivitas di sekitar lokasi terdampak.

Imbauan khusus disampaikan agar warga menghindari aliran sungai yang berpotensi dilalui banjir lahar. Aliran semacam itu dapat membahayakan siapa pun yang berada terlalu dekat, sehingga masyarakat sebaiknya tidak mendekati sungai untuk memantau keadaan atau melintas tanpa arahan. Warga juga perlu mengikuti petunjuk petugas dan tidak mengambil keputusan yang bertentangan dengan arahan keselamatan. Untuk mengetahui perkembangan situasi, masyarakat diminta mengakses informasi melalui saluran resmi. Langkah ini membantu warga memperoleh keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan dan menghindari kesimpangsiuran informasi mengenai kondisi maupun penanganan bencana.

Selain menyampaikan langkah kewaspadaan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur merencanakan bantuan bagi keluarga korban dan warga yang bangunannya terdampak. Pemerintah provinsi akan memberikan santunan duka dengan total Rp20 juta untuk dua korban jiwa. Bantuan tersebut ditujukan sebagai dukungan bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga akibat bencana. Paket sembako juga disebut akan segera diberikan untuk membantu kebutuhan warga terdampak. Untuk mendukung pemulihan bangunan, bantuan berupa semen dan bata turut direncanakan. Bantuan material itu diharapkan dapat membantu warga memperbaiki rumah yang mengalami kerusakan, tanpa mengabaikan arahan keselamatan selama proses pemulihan. Rencana santunan, paket sembako, semen, dan bata menjadi bagian dari dukungan yang disampaikan pemerintah provinsi, sementara masyarakat tetap perlu memperhatikan imbauan BNPB dan informasi resmi dalam menghadapi keadaan di lapangan.

55 kunjungan