Malang | Hujan deras yang berlangsung sejak Sabtu (31/10/2026) hingga Minggu (1/11/2026) memicu longsor di lima desa yang berada di Kecamatan Tirtoyudo dan Ampelgading, Kabupaten Malang. Bencana tersebut menyebabkan sejumlah akses terputus dan membuat puluhan rumah mengalami kerusakan atau terdampak material longsor serta luapan air bercampur lumpur.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat sebanyak 49 rumah terdampak dalam kejadian ini. Dampaknya tersebar di sejumlah titik, seiring pergerakan tanah yang terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut selama dua hari. Selain permukiman, kondisi jalan juga terdampak, termasuk badan jalan yang ambles sehingga tidak dapat dilalui dengan aman.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menjelaskan bahwa tanah tidak mampu menahan tingginya curah hujan. Kondisi tersebut memicu pergerakan tanah di beberapa lokasi. Dalam keterangan yang disampaikan pada Senin (2/11/2026), ia menyebut dampak kejadian mencakup badan jalan yang ambles serta air bercampur lumpur yang meluap ke kawasan permukiman.
Luapan tersebut menambah dampak yang dirasakan warga, sementara akses yang terputus menyulitkan mobilitas di sekitar lokasi terdampak. Kondisi jalan yang ambles juga menunjukkan bahwa dampak hujan tidak hanya terjadi pada rumah, tetapi turut mengganggu prasarana penghubung antarkawasan. Data BPBD mengenai 49 rumah menjadi gambaran awal skala kerusakan dan dampak yang tercatat setelah rangkaian hujan deras tersebut.
Peristiwa ini menempatkan lima desa di dua kecamatan sebagai wilayah terdampak longsor dan gangguan akses. Hujan yang terjadi dalam rentang Sabtu hingga Minggu menjadi pemicu pergerakan tanah, lalu berujung pada kerusakan jalan dan luapan lumpur ke permukiman. BPBD Kabupaten Malang menyampaikan catatan dampak tersebut pada Senin, ketika jumlah rumah terdampak dan gangguan akses telah teridentifikasi. Warga di sekitar titik longsor menghadapi dampak langsung pada tempat tinggal maupun perjalanan sehari-hari akibat kondisi tersebut.
Data dampak longsor menunjukkan bahwa kerusakan rumah paling banyak tercatat di Kecamatan Tirtoyudo. Tiga desa di kecamatan ini menyumbang total 46 rumah terdampak, dengan jumlah terbesar berada di Desa Tirtoyudo. Sebanyak 21 rumah di desa tersebut masuk dalam catatan terdampak. Berikutnya, Desa Tlogosari mencatat 16 rumah, sementara di Desa Gandungsari terdapat sembilan rumah terdampak. Angka-angka ini menggambarkan sebaran dampak yang dilaporkan pada masing-masing desa, tanpa memberikan rincian tambahan mengenai kondisi setiap rumah.
Di Kecamatan Ampelgading, data menyebutkan tiga rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Rumah-rumah tersebut berada di Desa Tirtomarto dan Desa Wirotama. Namun, sumber tidak merinci berapa rumah yang berada di masing-masing desa, sehingga pembagian jumlah kedua lokasi tidak dapat dipastikan. Karena itu, angka tiga rumah sebaiknya dipahami sebagai jumlah gabungan untuk dua desa tersebut, bukan sebagai jumlah terpisah di setiap desa. Informasi yang tersedia juga tidak menjelaskan rincian tingkat kerusakan untuk tiap rumah.
Jika seluruh angka yang dicatat dijumlahkan, terdapat 49 rumah terdampak di Kecamatan Tirtoyudo dan Ampelgading. Sebagian besar berada di Tirtoyudo, yakni 46 rumah yang tersebar di Desa Tirtoyudo, Tlogosari, dan Gandungsari. Dengan demikian, dampak paling parah berdasarkan jumlah rumah terdampak tercatat di Kecamatan Tirtoyudo. Pernyataan ini merujuk pada sebaran jumlah yang dilaporkan, bukan pada penilaian lebih luas atas tingkat kerusakan atau kondisi bangunan. Data yang tersedia belum memuat keterangan rinci mengenai kategori kerusakan untuk rumah-rumah di Tirtoyudo. Untuk Ampelgading, keterangan yang ada hanya menyebut tiga rumah dengan kerusakan ringan hingga sedang di Tirtomarto dan Wirotama, tanpa pembagian per desa. Pemisahan jumlah dan tingkat kerusakan penting agar pembaca memahami batas informasi yang telah disampaikan. Rincian tersebut juga membantu menggambarkan lokasi yang paling banyak terdampak tanpa menambahkan klaim yang belum didukung data. Berdasarkan catatan yang tersedia, konsentrasi rumah terdampak memang paling tinggi di Tirtoyudo, sedangkan laporan Ampelgading mencakup tiga rumah di dua desa.
Material longsor yang menutup sejumlah titik di Malang menyebabkan gangguan serius terhadap infrastruktur dan mobilitas warga. Akses jalan desa terputus total, begitu pula jalur penghubung antardusun yang biasanya digunakan untuk menunjang kegiatan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat perjalanan warga menjadi terbatas dan menghambat hubungan permukiman yang terdampak dengan wilayah di sekitarnya. Tanah dan lumpur yang menimbun jalan juga menyulitkan kendaraan maupun pejalan kaki untuk melintas dengan aman.
Selain ruas jalan, jalur menuju pemakaman umum turut tertutup material longsor. Situasi ini menghambat akses warga ke fasilitas tersebut hingga kondisi jalan dapat ditangani. Saluran drainase di sekitar lokasi juga tertimbun tanah serta lumpur. Tertutupnya saluran berpotensi mengganggu aliran air, terutama apabila hujan kembali turun, sehingga pembersihan dan pemeriksaan kondisi drainase menjadi bagian penting dari penanganan di lapangan. Luasnya dampak pada akses dan saluran menunjukkan bahwa longsor tidak hanya merusak area permukiman, tetapi juga mengganggu fasilitas yang digunakan masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian warga memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat. Langkah ini dilakukan untuk menghindari risiko apabila terjadi longsor susulan, sambil menunggu situasi dinilai lebih aman. Warga yang tinggal di sekitar titik terdampak tetap perlu mewaspadai perubahan kondisi tanah dan mengikuti arahan petugas setempat. Pengungsian ke tempat yang lebih aman menjadi upaya perlindungan, khususnya bagi mereka yang rumahnya berada dekat area longsor atau jalur yang tertutup material.
Kerusakan material yang ditimbulkan cukup besar, dengan sejumlah akses dan fasilitas tertutup tanah maupun lumpur. Meski demikian, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian ini. Penanganan berikutnya perlu mencakup pembukaan kembali jalan desa dan jalur antardusun, pembersihan akses menuju pemakaman umum, serta pemulihan saluran drainase. Sampai akses dapat digunakan kembali dan kondisi dinyatakan aman, warga diharapkan berhati-hati saat beraktivitas di sekitar lokasi serta tidak memaksakan diri melintasi timbunan longsor.
Penanganan darurat dilakukan secara bersama oleh BPBD Kabupaten Malang, unsur muspika, TNI, Polri, perangkat desa, PMI, relawan, dan masyarakat. Sejak kejadian, tim gabungan berkoordinasi di lapangan untuk membantu warga terdampak, mengamankan area, serta menangani material longsor yang menutup sejumlah akses. Keterlibatan berbagai unsur tersebut mendukung respons yang lebih terarah, terutama di tengah kondisi jalur yang masih terganggu dan kebutuhan warga yang harus segera diperhatikan.
Dengan bergotong royong, petugas dan warga membersihkan material yang menghalangi jalan serta berupaya membuka kembali akses yang terputus. Pembersihan dilakukan untuk memulihkan hubungan antarwilayah dan memudahkan pergerakan warga maupun petugas. Namun, besarnya material yang perlu ditangani membuat proses pemulihan membutuhkan dukungan peralatan yang memadai. BPBD Kabupaten Malang menyampaikan kebutuhan alat berat agar pembersihan dapat dipercepat dan akses yang terdampak bisa segera dipulihkan. Kehadiran alat berat juga diperlukan untuk menunjang pekerjaan di titik-titik yang sulit ditangani secara manual.
Selain dukungan untuk pekerjaan di lapangan, bantuan bagi pengungsi dan warga terdampak juga menjadi perhatian. BPBD menyebut kebutuhan berupa selimut, obat-obatan, serta perlengkapan kesehatan dasar. Bantuan tersebut diperlukan untuk membantu memenuhi kebutuhan selama warga berada di tempat pengungsian maupun ketika masih menghadapi dampak bencana di sekitar tempat tinggal. Pendataan kebutuhan terus dilakukan agar dukungan dapat disesuaikan dengan kondisi warga, termasuk mereka yang harus meninggalkan rumah sementara waktu.
Pemerintah kecamatan mengimbau warga yang tinggal di zona merah atau kawasan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
Baca juga: TNI Salurkan 368.000 Liter Air Bersih untuk Masyarakat Terdampak Karhutla di Kalbar | Dalam Waktu Sepekan, Kodim Bojonegoro Salurkan 800 Ribu Liter Air Bersih ke Warga di 34 Desa Terdampak Kekeringan | Operasi Pembersihan Done Balogo, Tim Gabungan Temukan Senjata dan Sejumlah Barang
