IHSG Berbalik Melemah, Pasar Menanti Uji Level 5.116–5.180

oleh -134 Dilihat
oleh
IHSG Berbalik Melemah, Pasar Menanti Uji Level 5.116–5.180

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis, 28 Oktober 2026, dengan pijakan positif. Pada pembukaan, indeks tercatat di 5.305,19, lebih tinggi dibandingkan penutupan sesi sebelumnya yang berada di 5.282,31. Selisih tersebut memberi sinyal awal bahwa pasar sempat bergerak menguat, tetapi arah positif itu tidak bertahan lama setelah perdagangan berlangsung. Tekanan jual segera muncul dan mendorong indeks turun dari level pembukaannya. Perubahan yang cepat ini menunjukkan bahwa respons pelaku pasar pada awal sesi berlangsung dinamis, dengan penguatan pembukaan segera berhadapan dengan aksi jual.

Penurunan terlihat ketika IHSG mencapai 5.257,72 pada pukul 09.04 WIB. Posisi tersebut sekaligus menjadi level terendah yang tercatat pada rentang awal perdagangan yang dibahas. Dalam waktu singkat, indeks kemudian bergerak naik dan pada pukul 09.11 WIB menguat 0,11% ke 5.283,19. Pergerakan itu sempat membawa IHSG kembali mendekati penutupan sebelumnya, meski belum menghapus tekanan yang terlihat sejak beberapa menit pertama. Pemulihan tersebut juga tidak berlangsung stabil. Pada pukul 09.15 WIB, indeks kembali turun 0,18% ke 5.272,97, memperlihatkan bahwa tekanan jual masih membatasi upaya penguatan pada awal sesi.

Sepanjang rentang awal tersebut, level tertinggi IHSG tercatat sebesar 5.320,19, sedangkan level terendahnya berada di 5.257,72. Rentang ini menggambarkan lebar pergerakan indeks pada awal perdagangan, bukan hasil akhir untuk keseluruhan hari. Perbedaan angka tertinggi dan terendah memperlihatkan perubahan arah yang terjadi dalam waktu relatif singkat: indeks sempat bergerak di atas level pembukaan, turun tajam, pulih, lalu kembali melemah. Dengan demikian, data hingga pukul 09.15 WIB menunjukkan pembukaan yang positif diikuti volatilitas dan tekanan jual. Angka-angka tersebut hanya merujuk pada perkembangan awal sesi Kamis dan tidak dapat diperlakukan sebagai nilai penutupan perdagangan hari itu. Pergerakan berikutnya masih bergantung pada dinamika pasar selama sesi berjalan.

Pada awal perdagangan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlangsung di tengah tekanan yang meluas pada sejumlah indeks acuan. Indeks LQ45 turun 0,42% ke level 536,64, mencerminkan koreksi pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid. Sebagian besar indeks utama lainnya juga bergerak di zona merah. Jakarta Islamic Index (JII) menjadi salah satu yang bertahan di area positif, sehingga pergerakan pasar tidak sepenuhnya seragam.

Data perdagangan awal sesi menunjukkan 256 saham menguat, sementara 270 saham melemah dan 205 saham stagnan. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa jumlah saham yang terkoreksi sedikit lebih banyak daripada yang naik. Meski begitu, banyaknya saham yang belum berubah menandakan sebagian pelaku pasar masih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum menentukan arah transaksi. Perubahan indeks dan keluasan pasar menjadi dua hal yang perlu dicermati bersama, karena keduanya memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi perdagangan.

Aktivitas transaksi pada awal sesi juga tercatat melalui frekuensi, volume, dan nilai perdagangan. Ketiga ukuran itu penting untuk menilai tingkat partisipasi investor serta intensitas jual beli ketika IHSG bergerak melemah. Namun, angka rinci frekuensi transaksi, volume saham, dan nilai transaksi tidak tercantum dalam bahan yang tersedia. Karena itu, besaran aktivitas belum dapat diperbandingkan secara akurat dengan sesi sebelumnya, dan pembacaan terhadap likuiditas perlu menunggu data lengkap.

Dari sisi sektoral, energi, barang baku, barang konsumen non-primer, kesehatan, teknologi, serta transportasi dan logistik menguat. Sektor-sektor lainnya berada di zona merah, menunjukkan bahwa tekanan masih terasa di beberapa kelompok industri meskipun terdapat penopang pada sektor tertentu. Perbedaan arah ini mengisyaratkan adanya rotasi dan selektivitas investor, bukan kenaikan atau penurunan yang merata di seluruh pasar.

Faktor eksternal turut menjadi perhatian, termasuk nilai tukar rupiah. Kurs dolar Amerika Serikat berada pada Rp18.117 per US$1 sesuai bahan sumber. Pergerakan kurs dapat memengaruhi sentimen terhadap emiten dengan eksposur valuta asing, sehingga investor mencermati perkembangan nilai tukar bersamaan dengan indeks, saham, dan kinerja sektoral pada awal perdagangan.

Prospek perdagangan saham pada Kamis, 29 Oktober 2026, dinilai masih berpotensi melemah. Pandangan tersebut merupakan perkiraan analis untuk sesi mendatang, bukan gambaran pergerakan aktual IHSG pada hari itu. Investor perlu membedakan level teknikal yang diproyeksikan dengan data indeks yang benar-benar tercatat selama perdagangan. Arah pasar tetap dapat berubah mengikuti perkembangan sentimen, transaksi saham berkapitalisasi besar, serta respons pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dan global.

Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas memperkirakan, selama IHSG mampu bertahan di atas 4.907, indeks masih berada pada wave (iv) dari wave [v]. Dalam skenario ini, IHSG berpeluang mengalami koreksi terlebih dahulu ke area 5.116–5.180. Setelah koreksi tersebut, peluang penguatan masih terbuka, dengan sasaran pada kisaran 5.456–5.564. Dengan demikian, pelemahan yang diproyeksikan dapat menjadi bagian dari pola pergerakan teknikal, bukan serta-merta menandakan bahwa tren penguatan telah berakhir. Namun, skenario tersebut bergantung pada kemampuan indeks menjaga ambang 4.907.

Untuk acuan perdagangan, Herditya menyebut support pada 5.185 dan 4.915, sedangkan resistance berada di 5.460 dan 5.563. Level-level itu merupakan area pemantauan, bukan kepastian bahwa indeks akan menyentuhnya. Perbedaan batas bawah proyeksi koreksi, yakni 5.116, dan support 5.185 juga menunjukkan bahwa analis menggunakan rentang dan titik teknikal yang berbeda dalam membaca pergerakan.

Secara terpisah, Pilarmas Investindo Sekuritas melihat potensi pelemahan IHSG yang terbatas. Perusahaan tersebut memperkirakan indeks bergerak dalam rentang support dan resistance 5.185–5.590. Rentang ini menjadi pandangan tersendiri dan tidak sama persis dengan level yang disampaikan MNC Sekuritas. Kedua proyeksi sama-sama mengindikasikan bahwa tekanan masih mungkin terjadi, tetapi kedalaman koreksi dan peluang pemulihan tetap perlu dicermati melalui perkembangan indeks secara aktual. Pergerakan pada sesi Kamis nantinya akan menguji apakah area support dapat menahan tekanan atau justru membuka ruang penurunan lebih lanjut.

Pilihan saham yang disampaikan kedua pihak mencakup sejumlah emiten dari sektor berbeda. Pilarmas merekomendasikan PGAS, TINS, dan AMMN, sedangkan Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas memilih BRPT, EMAS, JPFA, dan TINS. Dengan demikian, TINS menjadi saham yang sama-sama masuk dalam daftar pilihan. Untuk tiga saham yang disertai catatan teknikal MNC Sekuritas, Herditya menggunakan pendekatan gelombang Elliott dan menetapkan status buy on weakness.

BRPT terkoreksi 6,79% ke level 1.235. Pergerakan tersebut disertai tekanan jual yang dominan, sehingga catatan teknikalnya perlu dibaca dengan mempertimbangkan pelemahan harga dan kondisi transaksi pada sesi tersebut. Herditya menguraikan posisi BRPT berdasarkan perhitungan gelombang teknikalnya, sementara rekomendasi yang dicantumkan adalah buy on weakness. Artinya, saham ini tetap berada dalam daftar pilihan, tetapi catatan tersebut bukan gambaran bahwa tekanan jual telah berakhir.

EMAS turun 0,81% ke 6.150. Tekanan jual masih dominan, meskipun volume transaksi mengecil. Dalam analisis gelombangnya, Herditya menjelaskan posisi EMAS sesuai hitungan teknikal yang ia gunakan dan menyertakan status buy on weakness. Penyusutan volume menjadi bagian dari gambaran kondisi perdagangan, tetapi tidak menghapus catatan bahwa tekanan jual tetap terlihat pada pergerakan saham tersebut.

Berbeda dari dua saham sebelumnya, JPFA naik 1,40% ke 1.810.