Kampung Somang Kembali Terlihat Saat Waduk Karian Mengering

oleh -319 Dilihat
oleh
Kampung Somang Kembali Terlihat Saat Waduk Karian Mengering

Jakarta | Kampung Somang berada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dan termasuk permukiman yang ditenggelamkan dalam pembangunan Bendungan Karian. Kawasan kampung tersebut berada di area yang kemudian menjadi genangan waduk. Karena itu, ketika permukaan air turun dan waduk mengering, bagian-bagian wilayah yang sebelumnya tertutup air dapat kembali terlihat. Kemunculan kembali kawasan itu menjadi pengingat bahwa pembangunan waduk mengubah bentang alam sekaligus menenggelamkan permukiman yang berada dalam cakupan genangannya. Kampung Somang bukan sekadar nama yang muncul ketika air surut, melainkan bagian dari lanskap wilayah Lebak yang berkaitan langsung dengan pembangunan infrastruktur sumber daya air.

Pembangunan Bendungan Karian mulai dilakukan pada 2015. Bendungan ini dirancang memiliki kapasitas tampung sekitar 315 juta meter kubik, dengan luas genangan mencapai 1.773 hektare. Skala tersebut menunjukkan besarnya wilayah yang ditata sebagai tampungan air dan pentingnya bendungan ini dalam perencanaan pengelolaan air regional. Angka kapasitas dan luas genangan juga memberi gambaran tentang perubahan fisik yang terjadi di sekitar lokasi, termasuk hadirnya perairan waduk pada area yang sebelumnya berupa daratan dan permukiman. Kampung Somang menjadi salah satu kampung yang berada dalam cakupan perubahan tersebut. Informasi mengenai kampung yang kembali terlihat saat air surut perlu dipahami dalam konteks fungsi dan skala Bendungan Karian.

Manfaat bendungan ini ditujukan bagi masyarakat di Banten, DKI Jakarta, serta sebagian wilayah Jawa Barat. Waduk Karian diharapkan mendukung penyediaan dan pengelolaan air bagi kawasan-kawasan tersebut, sehingga keberadaannya memiliki kepentingan yang melampaui Kabupaten Lebak. Pada saat yang sama, perubahan ketinggian air membuat kondisi kawasan genangan tidak selalu tampak sama. Ketika air berada pada tingkat tinggi, area yang tergenang tersembunyi di bawah permukaan waduk; saat air menyusut, kontur dan jejak permukiman seperti Kampung Somang dapat terlihat lagi. Dengan demikian, kemunculan kampung tersebut menghubungkan keadaan waduk saat ini dengan sejarah pembangunan bendungan, sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah proyek penyediaan air mengubah ruang di sekitarnya.

Pada 2017, sejumlah kampung di kawasan yang kini menjadi area Bendungan Karian harus ditenggelamkan sebagai bagian dari perubahan fungsi lahan untuk pembangunan waduk. Permukiman yang sebelumnya menjadi tempat tinggal warga itu masuk ke wilayah yang dipersiapkan bagi bendungan. Kampung Somang termasuk di kampung yang terdampak. Perubahan tersebut membuat kawasan permukiman lama perlahan tertutup air, seiring pengembangan infrastruktur untuk menampung air dan mendukung kebutuhan kawasan sekitarnya.

Selain Kampung Somang, kampung lain yang tercantum dalam bahan terkait kawasan tersebut adalah Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang. Penyebutan beberapa kampung ini menggambarkan luasnya perubahan yang berlangsung ketika kawasan bendungan dibentuk. Bagi warga, penenggelaman kampung bukan sekadar perubahan pada peta, melainkan juga peralihan dari lingkungan yang pernah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Lokasi rumah dan ruang yang sebelumnya dikenali sebagai permukiman kemudian berada di dalam area waduk.

Bendungan Karian diresmikan pada 2024 oleh Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo. Peresmian itu menandai beroperasinya infrastruktur yang dibangun setelah proses panjang, termasuk penataan kawasan dan pengalihan fungsi lahan. Namun, ketika permukaan waduk menyusut dan sebagian area kembali terlihat, jejak kampung yang pernah ditenggelamkan dapat muncul lagi. Kampung Somang menjadi salah satu nama yang mengingatkan masyarakat pada permukiman lama di wilayah tersebut. Kemunculannya saat waduk mengering menghubungkan kondisi alam saat ini dengan perubahan besar yang terjadi sejak 2017.

Karena itu, kisah Somang dan kampung-kampung lain perlu dipahami dalam dua konteks sekaligus: pembangunan bendungan dan sejarah masyarakat yang pernah tinggal di wilayah genangan. Bendungan Karian kini dikenal sebagai infrastruktur penting, tetapi kawasan waduk juga menyimpan ingatan tentang kampung yang dialihfungsikan. Saat air surut, bagian lahan yang tampak bukan hanya pemandangan musiman, tetapi juga pengingat bahwa bentang alam dan kehidupan warga pernah berubah secara mendasar. Informasi mengenai Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang melengkapi gambaran mengenai wilayah yang terdampak. Dengan demikian, kemunculan kembali Somang memberi ruang untuk mengenali sejarah kawasan, tanpa mengabaikan tujuan pembangunan bendungan maupun pengalaman warga yang harus meninggalkan kampung mereka.

Pada Desember 2024, keadaan Kampung Somang berubah seiring meningkatnya intensitas hujan. Kampung yang memiliki luas sekitar lima kilometer persegi itu merupakan lokasi penampungan air Bendungan Karian. Ketika hujan semakin intens, air bendungan mulai meninggi dan kawasan kampung tersebut mulai tenggelam. Perubahan ini menunjukkan hubungan langsung yang disebutkan meningkatnya hujan, naiknya air bendungan, dan mulai terendamnya Somang. Gambaran keadaan pada bulan itu bukan sekadar tentang kampung yang berada di sekitar waduk, melainkan tentang lokasi yang menjadi bagian dari area penampungan air dan mulai tertutup air saat kondisi hujan meningkat.

Somang mulai tenggelam ketika intensitas hujan meningkat, sebagaimana dijelaskan dalam bahan. Urutan kejadian tersebut penting untuk memahami perubahan yang terjadi pada Desember 2024: hujan bertambah intens, air Bendungan Karian meninggi, lalu kampung mulai terendam. Informasi yang tersedia tidak menyebutkan ukuran kenaikan air, sehingga perubahan itu tidak dapat dinyatakan dengan angka tertentu. Demikian pula, keterangan mengenai keadaan Somang pada periode tersebut terbatas pada proses mulai tenggelam. Penjelasan ini mempertahankan hubungan antarkejadian tanpa menambahkan rincian tentang seberapa luas bagian kampung yang telah tertutup air atau bagaimana kondisi wilayah di luar keterangan tersebut.

Luas Kampung Somang, sekitar lima kilometer persegi, serta fungsinya sebagai lokasi penampungan air Bendungan Karian memberikan konteks bagi perubahan itu. Namun, pokok keterangan untuk Desember 2024 tetap sederhana: meningkatnya intensitas hujan berkaitan dengan meningginya air bendungan, dan Somang mulai tenggelam. Dengan demikian, keadaan kampung pada bulan tersebut dapat dipahami melalui rangkaian yang dinyatakan itu, tanpa membuat perkiraan tentang waktu atau tingkat perendaman. Keterangan yang terbatas ini juga tidak menyatakan dampak lain, seperti perubahan pada kehidupan warga ataupun kondisi bangunan. Yang dapat ditegaskan ialah bahwa Somang mulai tenggelam ketika hujan semakin intens dan air bendungan meninggi.

Pada Juli 2026, Kampung Somang kembali terlihat ketika permukaan air Waduk Karian mulai surut. Bagian kampung yang sebelumnya berada di bawah genangan perlahan muncul seiring berkurangnya ketinggian air bendungan pada musim kemarau. Perubahan itu membuat kawasan yang lama tertutup air kembali dapat disaksikan dari sekitar waduk. Kemunculannya menjadi penanda visual bahwa kondisi permukaan waduk sedang berubah, meskipun pada tahap tersebut kampung belum seluruhnya tampak secara utuh. Area yang mulai terlihat memperlihatkan kembali bentuk lahan yang selama ini terendam, sementara air masih menutupi bagian-bagian lain di sekitarnya.

Memasuki Oktober 2026, kekeringan panjang yang dipicu El Niño membuat Kampung Somang benar-benar muncul ke permukaan. Permukaan air terus menyusut, sehingga bagian kampung yang sebelumnya masih berada di bawah genangan kini terlihat lebih jelas. Perubahan Juli dan Oktober menggambarkan bagaimana surutnya waduk berlangsung secara bertahap selama kemarau. Pada bulan-bulan sebelumnya, kemunculan kampung baru terlihat sebagian, sedangkan pada Oktober kawasan itu tampak kembali ketika air telah turun lebih jauh. Keadaan tersebut dapat diamati langsung pada area yang terbuka, tanpa perlu menambahkan dugaan mengenai perubahan lain di sekitar waduk.

Tanah di sekitar Kampung Somang yang muncul itu tampak retak-retak. Retakan terlihat pada permukaan lahan yang sebelumnya tertutup air, menandai kondisi tanah yang kini terbuka setelah genangan menyusut.

Baca juga: Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat | Empat Anggota OPM Serahkan Senjata dan Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi | Koops TNI Habema Amankan Kampung Balamai atas, Pangkoops: Ketegasan untuk Melindungi Masyarakat dan Menjaga Ruang Damai