Kratom dan Kemenyan Masuk Agenda Hilirisasi Pertanian, Pemerintah Sasar Peluncuran 2027

oleh -113 Dilihat
oleh
Kratom dan Kemenyan Masuk Agenda Hilirisasi Pertanian, Pemerintah Sasar Peluncuran 2027

Jakarta | Pemerintah berencana memperluas agenda hilirisasi pertanian dengan memasukkan kratom dan kemenyan sebagai komoditas yang perlu dikembangkan. Rencana ini menandai upaya untuk tidak hanya mengolah sumber daya dari sektor pertambangan, tetapi juga meningkatkan nilai hasil pertanian melalui pemrosesan di dalam negeri. Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan bahwa kedua komoditas tersebut memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Selama ini, penjualan bahan mentah sering kali membatasi nilai ekonomi yang dinikmati di dalam negeri. Dengan membangun kegiatan pengolahan, kratom dan kemenyan diharapkan dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan. Hilirisasi juga membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas produksi, pengembangan usaha, serta rantai pasok yang melibatkan pelaku di berbagai tahapan. Namun, peluang tersebut bergantung pada kesiapan pengembangan komoditas, fasilitas pengolahan, dan kepastian tata kelola.

Kratom dikenal sebagai tanaman yang tumbuh di sejumlah wilayah Indonesia, sementara kemenyan merupakan hasil hutan yang telah lama dimanfaatkan dan diperdagangkan. Keduanya memiliki karakter serta kebutuhan pengolahan yang berbeda, sehingga pendekatan pengembangan tidak dapat diseragamkan. Pemerintah perlu memperhatikan aspek budidaya atau pengelolaan sumber bahan baku, standar mutu, proses produksi, dan akses pasar. Langkah tersebut penting agar peningkatan kapasitas pengolahan berjalan seiring dengan ketersediaan bahan baku dan permintaan terhadap produk akhir.

Menurut Luhut, memasukkan kratom dan kemenyan ke dalam agenda hilirisasi mencerminkan peluang untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi berbasis komoditas domestik. Rencana itu diarahkan agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada tahap penjualan bahan mentah, tetapi juga tercipta melalui kegiatan pengolahan di dalam negeri. Pemerintah menargetkan peluncuran program hilirisasi pertanian pada 2027. Tahap berikutnya akan menentukan bentuk pengembangan yang disiapkan, termasuk dukungan bagi pengolahan dan keterlibatan pelaku usaha. Jika dirancang dengan tata kelola yang baik, pengembangan kedua komoditas tersebut dapat memperkuat nilai tambah pertanian sekaligus membuka peluang ekonomi bagi daerah penghasil.

Pengembangan hilirisasi kratom dan kemenyan ditargetkan memasuki tahap peluncuran pada Maret 2027. Target tersebut menjadi penanda rencana pemerintah untuk mendorong pengolahan kedua komoditas pertanian agar menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Namun, penetapan bulan peluncuran belum berarti seluruh rangkaian kegiatan telah dipastikan. Pemerintah masih menyiapkan sejumlah aspek yang diperlukan sebelum program dapat diperkenalkan secara resmi, sehingga pelaksanaan tetap bergantung pada kesiapan berbagai unsur pendukung.

Persiapan yang berlangsung mencakup tahapan yang perlu diselaraskan sebelum peluncuran, termasuk kesiapan rencana kerja dan fasilitas terkait. Dengan demikian, jadwal maupun bentuk kegiatan yang menyertai agenda Maret 2027 dapat menyesuaikan perkembangan persiapan tersebut. Target waktu itu perlu dipahami sebagai rencana yang sedang diupayakan, bukan kepastian bahwa semua agenda akan terlaksana tanpa perubahan. Pemerintah masih perlu memastikan bahwa unsur-unsur yang dibutuhkan telah tersedia dan dapat berjalan sesuai rencana.

Salah satu agenda yang direncanakan pada bulan yang sama ialah peresmian pusat riset di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Presiden Prabowo Subianto direncanakan meresmikan pusat tersebut, yang dikaitkan dengan pengembangan kratom dan kemenyan. Keberadaan pusat riset menjadi bagian dari rangkaian rencana pengembangan, sementara peresmian diproyeksikan berlangsung berdekatan dengan target peluncuran hilirisasi. Agenda ini juga masih terkait dengan kesiapan persiapan yang sedang dilakukan oleh pemerintah.

Peresmian pusat riset akan dilakukan apabila seluruh persiapan berjalan sesuai rencana. Syarat tersebut menunjukkan bahwa jadwal pelaksanaan tetap dapat dipengaruhi oleh kemajuan pekerjaan menjelang Maret 2027. Karena itu, perkembangan persiapan menjadi hal penting untuk menentukan kepastian waktu dan kegiatan yang akan digelar. Pemerintah menargetkan peluncuran pada bulan tersebut, tetapi rincian akhir agenda baru dapat dipastikan seiring kesiapan seluruh aspek. Masyarakat dan pihak terkait dapat mengikuti pembaruan resmi pemerintah mengenai jadwal maupun pelaksanaannya.

Pemerintah memandang kratom dan kemenyan sebagai komoditas pertanian yang memiliki peluang pasar apabila pengembangannya dilakukan secara lebih terarah. Luhut menyampaikan bahwa kedua komoditas tersebut berpotensi memberi nilai tambah melalui hilirisasi, yakni pengolahan yang memperluas nilai ekonomi bahan baku sebelum dipasarkan. Pandangan ini menjadi salah satu alasan keduanya masuk dalam agenda pengembangan pemerintah, bersama rencana peluncuran yang ditargetkan pada 2027. Namun, peluang tersebut masih merupakan pandangan mengenai potensi, bukan kepastian bahwa pasar atau nilai ekonomi tertentu akan tercapai.

Dalam menjelaskan kemungkinan nilai hilirisasi, Luhut menyebut angkanya dapat mencapai beberapa miliar atau bahkan puluhan miliar. Pernyataan itu sebaiknya dipahami sebagai gambaran mengenai skala peluang yang ia lihat, bukan angka pasti, hasil perhitungan terukur, atau proyeksi resmi yang telah ditetapkan. Tanpa rincian mengenai asumsi, periode, maupun ukuran pasar yang digunakan, nilai tersebut tidak dapat dianggap sebagai target pendapatan ataupun jaminan hasil. Karena itu, penilaian terhadap prospek kratom dan kemenyan masih perlu bertumpu pada informasi lanjutan mengenai kajian, kebijakan, dan pelaksanaan rencana pengembangan.

Aspek riset juga menjadi bagian dari agenda tersebut. Pemerintah merencanakan pusat riset yang akan berfokus pada pengurutan genom, yaitu proses membaca susunan materi genetik. Fokus ini menunjukkan bahwa pengembangan komoditas tidak hanya dibicarakan dari sisi peluang pasar, tetapi juga mencakup rencana untuk memperkuat pemahaman ilmiah melalui penelitian genom. Rencana pusat riset tersebut belum dengan sendirinya menjelaskan hasil yang akan diperoleh, jadwal operasional, atau dampak ekonomi yang dapat diukur. Dengan demikian, peluang komersial dan riset genom merupakan dua unsur dalam rencana pengembangan yang masih perlu dijabarkan lebih lanjut. Informasi yang tersedia belum memerinci bentuk hasil penelitian maupun kaitannya dengan tahapan hilirisasi, sehingga keduanya sebaiknya dipahami sebagai arah kebijakan dan rencana, bukan sebagai capaian yang telah terealisasi.

Luhut memandang pengembangan industri berbasis pertanian sebagai proses bertahap, bukan perubahan yang dapat berlangsung seketika. Rencana untuk mengembangkan kratom dan kemenyan perlu ditempatkan dalam perjalanan membangun rantai pengolahan, mengenali kebutuhan pasar, serta menyiapkan kapasitas industri. Dalam kerangka itu, tahap awal menjadi bagian dari proses yang lebih panjang. Pengembangan komoditas tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga dengan langkah untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, pembahasan mengenai agenda baru ini turut mengacu pada pengalaman sektor lain yang lebih dahulu menjalani proses hilirisasi. Perbandingan tersebut memberi konteks mengenai tahapan yang mungkin ditempuh, tanpa menyamakan karakter tiap komoditas ataupun menganggap bahwa hasilnya akan serupa.

Sebagai pembanding, Luhut menyinggung perjalanan hilirisasi nikel yang mulai dirintis sekitar sepuluh tahun sebelumnya. Pengalaman nikel memperlihatkan bahwa pembangunan industri pengolahan memerlukan waktu dan dilakukan melalui sejumlah tahapan. Perbandingan dengan kratom dan kemenyan terutama berkaitan dengan posisi awal pengembangan: kedua komoditas pertanian itu kini dibicarakan sebagai bagian dari agenda hilirisasi yang masih perlu dikembangkan. Perbedaan bahan baku, proses pengolahan, serta kebutuhan pasar membuat masing-masing sektor memiliki konteks tersendiri. Dengan demikian, pengalaman nikel berfungsi sebagai rujukan untuk memahami sifat bertahap dari hilirisasi, bukan sebagai jaminan bahwa komoditas pertanian akan mengikuti jalur yang sama persis. Penekanan pada proses juga menjaga pembahasan tetap pada rencana dan tahapan, alih-alih menyatakan hasil yang belum terjadi.

Selama ini, agenda hilirisasi nasional banyak dikaitkan dengan sektor mineral, terutama nikel. Perhatian publik dan pembahasan kebijakan mengenai pengolahan di dalam negeri kerap menjadikan komoditas tersebut sebagai contoh utama. Rencana memasukkan kratom serta kemenyan menandai perluasan ruang pembicaraan menuju komoditas pertanian.

Baca juga: Sinergi Babinsa dan PPL Pertanian dalam Pengubinan Menjelang Panen Padi | Tiga Menko dan Sejumlah Tokoh Hadiri Peluncuran Buku Terbaru Bamsoet ke-38 dan Buku Perjalanan Panjang Bamsoet Karya Wartawan Senior J.Osdar | TNI Bersama Pemerintah Perkuat Penanggulangan Karhutla