7 Alasan Mengapa Orang Tetap Menggenggam Benda Pemberian dari Orang Tercinta yang Telah Meninggal

oleh -51 Dilihat
oleh
7 Alasan Mengapa Orang Tetap Menggenggam Benda Pemberian dari Orang Tercinta yang Telah Meninggal

Kediri | seseorang yang masih menyimpan barang pemberian / foto: Magnific/dragonimages Ada orang yang masih menyimpan sebuah jam tangan milik ayahnya, meskipun jarumnya sudah tidak lagi berjalan.

Data lain dalam laporan menunjukkan Ada yang tidak sanggup membuang baju terakhir yang pernah diberikan ibunya.Ada pula yang menyimpan surat, foto, dompet, parfum, buku, cincin, atau bahkan benda kecil yang bagi orang lain terlihat tidak memiliki nilai berarti.Bagi orang lain, benda-benda tersebut mungkin hanyalah barang.Tetapi bagi seseorang yang sedang berduka, benda itu bisa terasa seperti bagian kecil dari seseorang yang telah pergi.Kadang-kadang, hanya dengan memegangnya, seseorang dapat mengingat suara, wajah, kebiasaan, perhatian, bahkan perasaan aman yang dulu hadir ketika orang yang dicintainya masih hidup.Itulah sebabnya, setelah seseorang meninggal dunia, kita sering melihat orang-orang tetap menggenggam atau menyimpan benda-benda pemberian mereka selama bertahun-tahun. Bahkan ketika kehidupan sudah berjalan jauh ke depan, benda tersebut masih memiliki tempat khusus.Dalam psikologi, hal ini dapat dipahami sebagai bagian dari hubungan manusia dengan kenangan, identitas, emosi, dan proses berduka.Bukan semata-mata karena seseorang “tidak bisa move on”.Justru, menyimpan benda peninggalan orang tercinta dapat menjadi salah satu cara manusia beradaptasi dengan kehilangan.Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), terdapat tujuh alasan mengapa seseorang tetap mempertahankan benda-benda pemberian dari orang yang telah meninggal dunia.1. Benda tersebut menjadi “jembatan” menuju orang yang telah tiadaSalah satu alasan paling kuat adalah karena benda dapat menjadi penghubung seseorang dengan sosok yang telah meninggal.Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai, yang hilang bukan hanya kehadiran fisiknya. Rutinitas, percakapan, sentuhan, perhatian, dan berbagai pengalaman bersama juga ikut berubah.Rumah mungkin masih sama.Kamar mungkin masih ada.Kursi favoritnya mungkin masih berada di tempat yang sama.Tetapi orangnya sudah tidak ada.Perubahan yang begitu besar dapat membuat seseorang mengalami kekosongan yang sulit dijelaskan.Di tengah kekosongan tersebut, benda peninggalan dapat memberikan semacam “jembatan” psikologis.Sebuah jam tangan mungkin mengingatkan seseorang pada ayahnya.Sebuah syal mungkin mengingatkan seseorang pada ibunya.Sebuah buku mungkin mengingatkan seseorang pada pasangan yang dulu sering membacanya.Secara emosional, benda tersebut bukan lagi sekadar objek.Ia telah menjadi bagian dari jaringan kenangan yang terhubung dengan orang yang telah meninggal.Karena itu, ketika seseorang memegang benda tersebut, ingatan tentang orang yang dicintainya dapat muncul kembali dengan sangat kuat.Bahkan terkadang hanya aroma sebuah parfum atau tekstur pakaian sudah cukup untuk memunculkan kenangan lama.Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa menangis ketika menemukan benda lama yang diberikan oleh orang yang telah meninggal.Bukan karena bendanya.Melainkan karena benda itu membawa seseorang kembali kepada hubungan yang pernah mereka miliki.2. Benda tersebut membantu mempertahankan ikatan emosionalKematian mengakhiri kehadiran fisik seseorang, tetapi tidak otomatis menghapus hubungan emosional dengannya.Dalam psikologi modern tentang duka, terdapat konsep yang dikenal sebagai continuing bonds, atau ikatan yang terus berlanjut.Gagasan ini membantu menjelaskan bahwa proses berduka tidak selalu berarti seseorang harus “melupakan” orang yang telah meninggal.Sebaliknya, seseorang dapat belajar menjalani hidup sambil mempertahankan bentuk hubungan tertentu dengan orang tersebut.Misalnya, seseorang mungkin masih berbicara dalam hati kepada ibunya.Ada pula yang masih memasak makanan kesukaan ayahnya pada hari tertentu.Sebagian orang menyimpan foto, surat, atau barang pemberian sebagai simbol hubungan tersebut.Dengan demikian, menyimpan benda peninggalan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang menolak kenyataan kematian.Bisa jadi justru sebaliknya.Orang tersebut sudah memahami bahwa orang yang dicintainya telah tiada, tetapi ia memilih untuk membawa sebagian hubungan itu ke dalam kehidupannya yang sekarang.Benda tersebut menjadi pengingat:“Dia memang sudah tidak ada di sini, tetapi hubungan kami pernah nyata dan tetap menjadi bagian dari hidup saya.”Ini merupakan perbedaan penting.Melupakan bukanlah satu-satunya cara untuk sembuh.Terkadang, seseorang sembuh dengan cara belajar membawa kenangan tersebut tanpa harus terus-menerus hidup di masa lalu.3.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Benda pemberian memiliki nilai emosional yang jauh lebih besar daripada nilai materialnyaSebuah benda bisa memiliki harga yang murah, tetapi nilai emosionalnya sangat mahal.Misalnya, seseorang mungkin menyimpan sebuah pulpen yang diberikan oleh ayahnya ketika masih sekolah.Secara ekonomi, pulpen tersebut mungkin tidak bernilai tinggi.Bahkan mungkin sudah rusak.Namun, bagi pemiliknya, pulpen itu bisa menjadi salah satu benda paling berharga di dunia.Mengapa?Karena manusia tidak memberikan makna pada benda hanya berdasarkan harga.Kita juga memberikan makna berdasarkan pengalaman yang terkait dengan benda tersebut.Sebuah cincin bukan hanya logam.Ia mungkin berarti janji.Sebuah foto bukan hanya selembar kertas.Ia mungkin menyimpan sebuah masa.Sebuah baju bukan hanya kain.Ia mungkin mengingatkan seseorang pada pelukan terakhir.Dalam psikologi, benda-benda seperti ini dapat menjadi objek simbolis. Nilainya berasal dari hubungan dan makna yang kita berikan kepadanya.Itulah sebabnya seseorang bisa berkata:“Kalau semua barang ini hilang, mungkin saya masih bisa menerima.

Tapi kalau benda ini hilang, rasanya seperti kehilangan dia untuk kedua kalinya.”Pernyataan seperti itu menunjukkan bahwa benda tersebut telah memperoleh makna emosional yang sangat kuat.Ia menjadi simbol dari sebuah hubungan.4. Benda tersebut membantu menjaga identitas dan sejarah pribadiKehilangan seseorang sering kali juga membuat kita merasa kehilangan sebagian dari diri sendiri.Hal ini terutama dapat terjadi ketika orang yang meninggal memiliki peran besar dalam kehidupan kita.Seorang anak mungkin kehilangan orang tua.Seorang pasangan kehilangan teman hidup.Seorang saudara kehilangan orang yang tumbuh bersamanya sejak kecil.Dalam situasi seperti itu, hubungan dengan orang yang meninggal merupakan bagian dari identitas seseorang.“Dia adalah ayah saya.”“Dia adalah ibu saya.”“Dia adalah pasangan saya.”“Dia adalah orang yang menemani saya sejak kecil.”Ketika orang tersebut meninggal, sebagian dari kehidupan yang membentuk identitas kita ikut berubah.Benda pemberian dapat membantu mempertahankan kontinuitas tersebut.Seseorang mungkin melihat sebuah benda dan mengingat:“Ini diberikan kepadaku ketika aku pertama kali bekerja.”“Atasannya dulu membelikan ini untukku.”“Ibu memberikan ini sebelum aku pergi merantau.”“Ayah memberikan jam ini ketika aku lulus.”Dengan demikian, benda tersebut bukan hanya mengingatkan seseorang kepada orang yang telah meninggal, tetapi juga mengingatkan siapa dirinya pada masa ketika hubungan tersebut masih berlangsung.Benda tersebut menjadi semacam arsip kehidupan.Ia menyimpan cerita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan orang-orang yang pernah membentuk diri kita.5.